Pemangkalan militer Daratan Tiongkok untuk wilayah Selat Taiwan tidak pernah berubah, sementara dana pertahanan nasionalnya bertambah terus setiap tahun. Untuk itu, ada perlunya bagi Taiwan untuk terus menguatkan daya pertahanan nasional dengan mentaati prinsip “menghentikan perang tapi tidak takut perang, siap-siaga tapi tidak menuntut perang.”
Demikian diungkapkan oleh Presiden Ma Ying-jeou ketika menerima kunjungan Menteri Pertahanan Paraguay Bernardino Soto Estigarribia di kantor kepresidenan pada hari Senin (25/5).
Ma mengemukakan, berkat kebijaksanaan mempromosikan perkembangan damai antar Selat Taiwan yang diadopsi sejak inaugurasinya, hubungan antara Taiwan dan Daratan Tiongkok adalah yang paling stabil sejak perpisahan 66 tahun silam.
Faktor utama kestabilan dan perdamaian ini adalah ditaatinya “Konsensus 1992,” suatu kesepakatan yang dicapai antara kedua belah Selat Taiwan pada tahun 1992, menegaskan bahwa hanya ada satu Tiongkok, tapi kedua pihak berhak menginterprestasinya secara individu.
Perihal kebijaksanaan untuk meningkatkan daya pertahanan nasional dalam menghadapi ancaman militer Daratan Tiongkok, Ma mengajukan kembali dukungan pada sistem militer sukarelawan.
Presiden Ma mengatakan, “Kita tidak perlu merekrut terlalu banyak tentara sebagaimana dilaksanakan berdasarkan sistem wajib militer di masa lalu, tapi kita harus meningkatkan kualitas pasukan kita. Dianggapnya militer sebagai profesi baru bisa memotivasi setiap tentara untuk berprestasi baik dalam pekerjaannya. Menurut prakiraan, sistem militer sukarelawan yang telah diadopsi akan bisa meningkatkan daya pertempuran militer dan mengurangi modal sosial.”
Untuk tahun-tahun kedepan, pemerintah Republik Tiongkok di Taiwan akan terus berperan sebagai pencipta perdamaian, namun pada saat yang sama memiliki kekuatan pertahanan nasional yang bisa mencegah terjadinya peperangan, tegas Presiden.