Presiden Ma Ying-jeou menegaskan kembali “konsensus 1992” sebagai prinsip kebijaksanaan antar Selat Taiwan untuk mempertahankan kondisi damai antara Taiwan dan Daratan Tiongkok.
Ma mengungkapkan hal tersebut ketika menemui ketua Panitia Pengawas Institut Amerika di Taiwan (AIT) Raymond Burghard di Kantor Kepresidenan pada hari Senin (11/5).
Presiden Ma memberitahukan Burghard, dalam masa jabatannya sepanjang tujuh tahun terakhir, dia selalu mentaati prinsip “konsensus 1992,” yang mana keberadaannya belakangan ini telah dikonfirmasi melalui beberapa dokumen bersejarah.
Kita harus mengerti bahwa “konsensus 1992 sebenarnya adalah model untuk mempertahankan kedaulatan Republik Tiongkok dan martabat Taiwan,” tutur Ma.
Untuk diketahui, “konsensus 1992” adalah kesepakatan yang dicapai antara dua lembaga perantara swasta antar Selat Taiwan, yaitu Yayasan Interaksi Antar Selat (SEF) Taiwan dan Asosiasi Hubungan Antar Selat Taiwan (ARATS) Daratan Tiongkok, pada tahun 1992 perihal kenyataan keterpisahan Taiwan dan Daratan Tiongkok saat ini.
Menurut “konsensus 1992,” kedua pihak mengakui hanya ada “satu Tiongkok” tapi memiliki kebebasan untuk secara individu menginterpretasi arti dari “satu Tiongkok.”
Dalam pertemuan dengan Burghard, kepala negara juga menerangkan, faktor utama kalahnya partai berkuasa Kuomintang (KMT) dalam pemilihan umum pemerintah daerah tahun lalu bukan kebijaksanaan antar Selat Taiwan berdasarkan “konsensus 1992,” melainkan disebabkan isu domestik.
Ma menerangkan, isu-isu domestik yang dimaksud mencakup dampak krisis ekonomi global 2008 terhadap ekonomi lokal, reaksi rakyat terhadap reformasi domestik seperti kebijakan perpajakan, serta serangkaian insiden keamanan makanan.