(Taiwan, ROC) – Lembaga penyiaran Australia, Radio ABC melaporkan berita khusus yang mengungkap kasus eksploitasi pekerja asing pada industri makanan di Australia, kasus ini juga melibatkan pekerja paruh waktu asal Hongkong dan Taiwan, sebagian pekerja ini mendapat perlakuan tidak adil dalam hal pengupahan maupun lingkungan kerja, bahkan ada pekerja wanita yang juga mengadukan masalah pelecehan seksual. Isu permasalahan ini menjadi topik pembahasan di hari ini pada tanggal 7 Mei 2015 dalam sidang komite kesejahteraan dan lingkungan sehat masyarakat, Yuan Legislatif.
Menaker Chen Hsiung-wen mengemukakan, sementara ini ada 2 cara bekerja paruh waktu di Australia, yang pertama adalah liburan sambil bekerja, diproses melalui jalur resmi dibawah kementerian luar negeri, dalam hal ini lebih tidak bermasalah; kedua adalah pekerjaan melalui agen perantara yang memungkinkan pekerja bekerja secara ilegal.
Chen Hsiung-wen mengemukakan, kemenaker telah mengumpulkan data awal, akan segera menghubungi kemenlu, diprakirakan dalam kurun waktu 3 bulan memberikan laporan, jika diperlukan data tersebut akan disiapkan sebagai bahan pemeriksaan.
Chen Hsiung-wen mengatakan, “Dalam hal ini kami juga telah mendengar berita, kami juga telah mengumpulkan beberapa data awal, kami akan segera menghubungi kemenlu untuk meninjau tindak lanjut yang akan diambil. Apakah bisa memberikan kami waktu yang cukup, karena masih perlu melakukan peninjauan dan pemeriksaan (kurang lebih 3 bulan).”
Anggota kaukus partai Kuomintang atau KMT, Wang Yu-min mengatakan semenjak tahun 2012 hingga tahun ini, di Taiwan ada 12 kasus perantara ilegal yang dihukum, disebabkan karena generasi muda yang akan bekerja paruh waktu tidak memiliki informasi jelas dan lembaga yang resmi, maka pasti memberi kesempatan bagi perantara gelap Taiwan untuk bekerjasama dengan lembaga ilegal di Australia. Ia menghimbau agar kemenaker dapat segera menindaklanjuti setidaknya kasus ini dapat dicegah di dalam negeri.