(Taiwan, ROC) – Ketua Partai Kuomintang (KMT) saat bertemu dengan “Chu-Xi” menyebutkan “Antar selat termasuk satu Tiongkok, namun untuk konotasi dan definisinya berbeda dengan termaklumat dalam konsensus 92”, partai oposisi DPP mempertanyakan Erick Chu Li-luan (朱立倫) yang menggunakan kata-kata “termasuk satu Tiongkok” berbeda dengan kebijakan Presiden Ma Ying-jeou “Konsensus 92, berdasarkan persepsi masing-masing” sekaligus mengkritik apa yang disampaikan olehnya adalah mengorbankan kedaulatan Taiwan.
Menteri Kantor Urusan Daratan Tiongkok Andrew Hsia (夏立言) hari ini (6) saat ditanya di Yuan Legislatif menyampaikan, ucapan yang disampaikan Erick Chu adalah mempertahankan “Konsensus 92” dan telah memastikan pentingnya “Konsensus 92”.
Ia menyampaikan : Beliau mengatakan ini adalah kerja keras kita semua, pada tahun 92 baru ada antar selat termasuk satu Tiongkok, kemudian untuk konotasinya dan definisinya berbeda dengan termaklumat dalam konsensus 92, apa yang diungkapkan olehnya adalah konsensus 92, sehingga pada prinsipnya cara penyampaian mungkin berbeda dengan presiden Ma, tapi tujuan utamanya dalah memastikan pentingya konsensus 92
Legislator Chen Yi-jie (陳怡潔) menanyakan apakah ada perbedaan konotasi antara “Antar selat satu Tiongkok” dengan “Satu Tiongkok persepsi masing-masing, Andrew Hsia menilai bahwa “Tidak sama persis”
Ia menyampaikan : Satu Tiongkok persespsi masing-masing adalah kedua belah pihak memiliki persespi konotasi dan definisis yang berbeda, sehingga masing-masing menjelaskan secara lisan dan tertulis, tidak sama persis.
Menanggapi ungkapan mantan presiden Lee Deng-hui yang tidak mengakui “Konsensus 92”, Hsia kembali menyerukan bahwa hal ini adalah kenyataan sejarah, tidak boleh dihapuskan, ini adalah landasan yang penting agar hubungan antar selat dapat damai, stabil dan makmur, beberapa waktu belakangan ini pemerintah menggunakan berbagai macam kesempatan terus menjelaskan latar belakang dan dampak adanya “konsensus 92”.