(Taiwan-ROC) Direktoral Jenderal Budjet, Akuntansi dan Statistik (DGBAS), 24 April mengumumkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Taiwan untuk tahun 2015 sebesar 3,70%, jika dibandingkan dengan perkiraan yang diumumkan pada bulan Januari lalu yaitu sebesar 3,67%, meningkat sedikit 0,03%. DGBAS menegaskan, meskipun kali ini tingkat perkiraan pertumbuhanan ekonomi hanya naik 0,03%, tetapi bisa dikatakan datar, mungkin pada kwartal ke 3 baru bisa cerah.
Kepala Pusat Perkiraan Iklim Ekonomi, Sun Ming-de mengatakan : terasakan Amerika Serikat menghadapi sedikit kesulitan, Eropa dan Jepang sedikit membaik dibandingkan dengan tahun lalu, situasi iklim ekonomi sekarang ini lebih tidak mudah untuk diperkirakan, situasi sebelumnya kurang, kalau ingin cerah, mungkin harus menantikan sampai kwartal ke 3, karena kwartal ke 3 merupakan musim panen ekspor Taiwan, masalah Eropa mungkin baru akan dibahas pada kwartal paruh akhir tahun, ditambah dengan tahun lalu ada masalah pajak konsumen Jepang, harus menunggu kwartal ke 2 baru dapat keluar dari jalan berkabut, untuk paruh tahun ke bawah akan lebih cerah
DGBAS juga menganalisa, kesempatan kerja AS telah membaik, perlahan-lahan mengalami kemajuan, mata uang Euro dan Jepang dengan kebijakarn pelonggaran investasi dan pajak konsumen, perlhan-lahan mengarah pada pemulihan, langkah pemulihan iklim ekonomi global akan terus berjalan. Untuk bagian domestik, ekspor pada kwartal pertama “harga turun jumlah naik” ini karena pengaruh rendahnya harga minyak dunia, yang mempengaruhi turun harga jual, tetapi untuk kuantitas malah bertambah, sehingga diagram ekspor-impor terlihat kurang baik, meskpun secara keseluruhan menunjukkan keoptimisan.
Namun, DGBAS juga menyampaikan, unsur ketidak pastian ekonomi dalam dan luar negeri tetap ada, seperti waktu dan berapa besar kenaikan suku bunga Federal Reserve Bank (FED), Amerika Serikat, yang mungkin berdampak pada fluktuasi pasar investasi dalam dan luar negeri; Terus menurun harga minyak ditambah dengan masalah kekeringan dan penjatahan air dalam negeri, serta kemungkinan adanya pembatasan listrik, semua ini akan menjadi hantaman bagi produk ekspor di kwartal bersangkutan.