(Taiwan, ROC) - Direktorat Jenderal Pangan dan Obat-Obatan (FDA) Republik Tiongkok hari ini (8) mengumumkan laporan produk pangan impor, dimana kebanyakan dari 5 negara antaralain Jepang, Amerika Serikat, Daratan Tiongkok, Thailand dan Vietnam yang mana menunjukan pertumbuhan. Bila melihat dari produk yang tidak lolos standar, Jepang kebanyakan bermasalah di makanan segar dan buah-buahan sedangkan Daratan Tiongkok adalah “suplemen dan obatan” adalah paling banyak masalah, yang paling sering ditemui adalah kadar pestisida yang berlebihan di produk ginseng dan herbal.
Taiwan hanya mampu memenuhi 30% kebutuhan pangan sehingga kebanyakan adalah bergantung kepada impor. Berdasarkan statistik FDA, diantara 193 negara di dunia, untuk tahun 2013 saja ada ada 162 negara yang mengekspor produk makanan ke Taiwan, dimana kebanyakan adalah makanan olahan.
Pejabat FDA Bai Mei-juan (白美娟) menuturkan, walau sumber makanan dari negara-negara lain banyak, namun kebanyakan bergantung kepada Jepang, Amerika Serikat, Daratan Tiongkok, Thailand dan Vietnam. Bila melihat kepada kuantitasnya, kebanyakan berasal dari negeri matahari. Ia mengatakan : tahun 2013 total ada 162 negara yang mengekspor ke negara kita, diantara semua negara ini, berdasarkan kuantitasnya, 5 negara pertama adalah Jepang, kedua Amerika, kemudian disusul Daratan Tiongkok, Thailand dan Vietnam. Untuk Jepang, mungkin karena lebih dekat dengan kita, produk olahan Jepang lebih beranekaragam, jadi secara kuatitas produk mereka lebih banyak.
Satu hal yang unik, permintaan warga Taiwan terhadap kopi sangat tinggi, saat ini di pasaran dapat kita temukan kopi dari 73 negara, ini sangat beragam, diantaranya kebanyakan berasal dari Jepang, Amerika, Vietnam, Indonesia, Malaysia. Kemudian untuk produk ikan beku, juga berasal dari 71 negara di dunia.
Belakangan tahun ini masalah keamanan pangan jadi perhatian banyak orang, jenis produk pangan impor terbagi menjadi lebih detil, FDA menjelaskan, saat ini sudah ada 2.328 produk pangan, untuk pemeriksaan produk impor yang semula dari hanya 5% dapat mencapai 100%, sehingga inilah menjadi penyebab mengapa jumlah produk impor yang tidak lolos semakin banyak jumlahnya.