(Taiwan, ROC) – Tim peneliti dibawah pimpinan professor National Taiwan Normal University (NTNU), Hung Cheng-ee, pada hari Kamis tanggal 2 April menyampaikan hasil penelitian skrining terkait dengan penyakit Alzheimer. Ketua tim peneliti membeberkan, pengembangan yang mereka lakukan adalah “teknologi immunoassay Magnetoreduction”, melalui test darah dapat didiagnosis kemungkinan terkenanya kognitif ringan, dengan ketepatan mencapai 85%, dengan demikian dapat melakukan pencegahan dini bagi mereka yang mungkin dapat terkena penyakit Alzheimer. Untuk teknologi terkait ini telah dialihkan pada perusahaan biotek, saat ini sudah dalam uji klinis, diperkirakan tahun depan sudah dapat mengajukan permohonan pengedaran pada Dewan Pangan dan Obat-obatan, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan.
Penyakit Alzheimer merupakan penyakit ganguan neurodegenerative, termasuk sejenis penyakit Dementia, biasanya berkaitan erat dengna penuaan, tetapi penyakit ini juga mungkin menyerang orang usia muda. Berdasarkan data statistik, ada 44 juta penderita Alzheimer di seluruh dunia, dan 1500 juta manusia di bumi terkena Alzheimer ringan, untuk di Taiwan saja sudah ada sekitar 100 ribu lebih orang menderita penyakit Alzheimer.
Di bawah pimpinan Profesor jurusan Teknologi Optoelektronik, NTNU, Hung Chang-ee, saat ini dapat mengetahui apakah terdapat gejala Alzheimer ringan dengan melalu diagnosis darah, jika ada, maka ada kesempatan untuk melakukan tindakan pencegahan dini penderita Alzheimer.
Hung Chang-ee menegaskan, saat ini diagnosis penyakit Alzheimer melalu tes cairan tulang belakang, pengobatan yang beresiko, namun jika dapat didiagnosis melalui darah, dengan waktu pengetesan hanya 5 jam saja, dengan tingkat ketepatan cukup tinggi.
Hung Chang-ee mengatakan, “Saya mengubah pengukuran perilakunya, perubahan ini tidak berkaitan dengan interferon lainnya, sehingga tidak akan menganggunya, dapat mengukurnya dengan lebih akurat.”
Teknologi ini telah dialihkan pada perushaan biotek Magqu, manager Magqu, Yang Hsie-le menegaskan, saat ini telah melakukan uji klinis dengan 4 rumah sakit besar termasuk National University Hospital (NUH), diperkirakan pada akhir tahun ini sudah dapat memperoleh hasilnya, dalam waktu dekat ini juga bisa mendapatkan sertifikat uji coba Uni Eropa CE dan Amerika Serikat FDA serta lainnya, dan diperkirakan tahun depan sudah dapat diajukan ijin pengedaran dari Dewan Pangan dan Obat-obatan. Biaya untuk diagnosis darah ini diperkirakan sekitar NT$ 10 ribu lebih, jauh lebih murah dibandingkan dengan diagnosis dengan cairan tulang belakang.
Yang Hsie-le menyampaikan, selanjutnya juga akan bekerja sama dengan industri farmasi, agar dapat langsung melakukan pengobatan begitu seseorang dipastikan ada gejala Alzheimer ringan, agar dapat mencegah terkena penyakit Alzheimer.