(Taiwan, ROC) - Berdasarkan pendataan dari kementerian kesejahteraan kesehatan Taiwan melaporkan, wilayah Taiwan dengan kelompok usia di atas 45 tahun terdapat lebih dari 20% mengalami resiko obesitas, lebih dari setengahnya memiliki resiko kelebihan berat badan dan obesitas, namun hasil pendataan juga mencatat adanya kesenjangan antar kabupaten kota, dilaporkan kota Taipei dengan kelompok masyarakat paling kurus, sementara kabupaten Hualien Taitung presentase obesitas cukup tinggi. Dokter yang pernah bertugas di rumah sakit Mackay bagian kandungan, dokter Jiang Sheng(江盛) mengatakan, ini mendapat pengaruh faktor utama seperti mudah mendapatkan bahan makanan segar, perbedaan kemampuan ekonomi, asupan makanan olahan maupun jenis arak yang berlebihan.
Dari hasil pendataan ini dengan berpatokan angka BMI lebih dari 24 dianggap kelebihan berat badan, dengan standar ini terlihat data penduduk yang menetap di kabupaten Taitung, Hualien paling tinggi dengan masing-masing indeks menunjuk pada 44,7% dan 44,1%, sementara angka terendah berada di kota Taipei, dengan persentase kelebihan berat badan terdapat 34,3%
Dokter Jiang Sheng mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir ini, sebagian besar masyarakat Taitung mengalami perubahan besar yakni pada ukuran pinggang, dengan ukuran badan yang semakin membesar, terutama dalam komunitas masyarakat suku aborigin, daya metabolism menurun telah menjadi penyakit epidemik, semakin meningkat jumlah penderita kardiovaskular, bahkan rumah sakit Mackay di Taitung bagian kardiologi dengan jumlah pasien semakin banyak.
Dokter Jiang Sheng mengatakan, ada banyak hal yang menyebabkan masyarakat pedesaan menjadi lebih gemuk, termasuk sulit bagi mereka mendapatkan makanan segar seperti contoh mereka sulit menjangkau pasar swalayan yang hanya terletak di kota Taitung, ditambah dengan jumlah anggota keluarga lebih banyak sehingga juga menjadi beban ekonomi keluarga, sibuk dengan pekerjaan tidak ada waktu mempersiapkan makanan, lebih sering membeli jajanan di luar, ditambah dengan asupan makanan olahan maupun arak berlebihan, semua ini gampang menyebabkan obesitas, di masa jangka panjang timbul penyakit diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, radang persendian, kanker Rahim, kanker usus, penyempitan pada pembuluh darah dan lain sebagainya.
Dokter Wu Chih-hsing(吳至行) yang bertugas di rumah sakit national cheng kung university (NCKU) mengatakan, banyak penelitian Amerika menemukan, masyarakat kalangan ekonomi lemah lebih berkemungkinan menderita obesitas, dikarenakan produk makanan sehat lebih mahal harganya, sementara makanan berkadar kalori tinggi dan murah biasanya lebih tidak sehat, contohnya makanan cepat saji, hal ini menunjukkan kondisi ekonomi mempengaruhi pola makan pada akhirnya berdampak terhadap kesehatan keluarga.