Keraguan masyarakat Taiwan terhadap keamanan makanan yang berasal dari tenpat terjadinya insiden pembocoran nuklir di Jepang belum sepenuhnya dihapuskan, maka meskipun sampai sekarang tidak ditemukan adanya makanan yang tercemar polusi, Taiwan masih harus meneruskan komunikasi resiko bersama pihak berwenang sebelum membuka kembali impor produk makanan dari daerah berpolusi nuklir di Jepang.
Demikian diungkapkan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Chiang Bing-huang (蔣丙煌) ketika menghadiri sidang interpelasi di rapat Komisi Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan Lingkungan Yuan Legislatif pada hari Senin (30/3).
Chiang mengatakan, “Perihal revisi apa yang akan kita lakukan, saya rasa keamanan adalah faktor paling dipertimbangkan, berikut adalah komunikasi resiko. Kita masih harus berkomunikasi lebih lanjut dengan masyarakat karena asalkan masih ada keraguan, kita tidak boleh mengabaikannya.”
Dalam rapat tersebut, sejumlah legislator mengusulkan bahwa Taiwan hendaknya mentaati langkah negara-negara tetangga dan negara-negara Eropa dan Amerika, membuka kembali izin impor produk makanan dari daerah berpolusi nuklir di Jepang.
Sekedar informasi, sejak 25 Maret, 2011, tidak lama setelah terjadinya insiden pembocoran nuklir di Jepang, pemerintah Taiwan melarang impor produk makanan dari Fukushima dan empat kabupaten Jepang lain yang terinfeksi radiasi nuklir.
Dibicarakan kembalinya impor makanan dari daerah-daerah berpolusi nuklir Jepang belakangan ini disebabkan oleh terjadinya insiden impor produk dengan daerah asal palsu dari Jepang. Masih untung, kata Chiang, pemeriksaan yang dilakukan sejak 19 Maret tidak menemukan adanya produk berpolusi.