(Taiwan, ROC) – Jumlah imigran baru Taiwan asal Asia Tenggara secara keseluruhan hampir mencapai lebih dari 100.000 orang, agar suara hati mereka dapat terus diperhatikan, pada tahun inin kembali diadakan penghargaan sastra bagi imigran dan buruh migran ke-2, selain mengundang beberapa orang terkemuka untuk menjadi juri, pertama kali mengundang anak-anak generasi dari imigran baru ikut dalam penilaian di babak final. Gu Yu-Ling(顧玉玲) pekerja sosial yang terjun dalam lingkungan pekerja asing asal Asia Tenggara mengatakan, hasil kreasi dari buruh migran tidak hanya menambah keragaman budaya sastra Taiwan, mereka juga menuangkan kisah nyata yang patut dipelajari oleh masyarakat Taiwan.
Sekjen asosiasi Tionghoa untuk Suara Pasangan dan Buruh Asing, Chang Cheng mengemukakan, diadakan kegiatan ini berguna untuk memperluas literatur sastra Taiwan, agar semakin berkembang, agar imigran asal Asia Tenggara menulis dengan sudut pandang Taiwan, menuliskan kehidupan dan lingkungan kerja nyata. Chang Cheng mengatakan, pada tahun lalu pertama kali mengadakan kegiatan ini dan mendapat tanggapan cukup antusias, tahun ini merupakan tahun ke-2, masih mengharapkan agar imigran baru, buruh migran maupun generasi kedua dari imigran baru dengan menggunakan bahasa negara asalnya seperti bahasa Thailand, bahasa Indonesia, bahasa Vietnam dan Tagalog untuk memberikan karya sastra mereka, tidak membatasi gaya bahasa dan setiap karya tidak melebihi dari 3.000 karakter, mereka dapat menceritakan suara hatinya.
Gu Yu-ling pernah menjadi juri pada acara penghargaan sastra ini di tahun lalu, mengakui kegiatan ini sangat bermakna. Ia mengatakan, bagi masyarakat Taiwan, semua konten tulisan dari buruh migran asing di Taiwan menyentuh ketenagakerjaan, mendasar dan menggambarkan perasaan di tempat yang berbeda dari negaranya, ini menunjukkan kekurangan sastra dari Taiwan, sehingga dapat dijadikan perluasan literatur sastra Taiwan; di samping itu, juga merupakan kesempatan yang baik, agar masyarakat Taiwan juga dapat mendengar suara hati dari buruh migran asing yang berada di sekeliling mereka, dengan hasil karya tulisan ini dapat memberikan suatu materi pelajaran baru bagi masyarakat Taiwan. Gu Yu-ling mengatakan: “di media massa memunculkan orang asing lengkap dengan nama, marga, suatu kisah, namun untuk buruh migran diibaratkan dengan kata gelap, seolah-olah mereka hanyalah angkatan kerja. Saya merasa dengan acara penghargaan sastra ini dapat memutarbalikkan bagian kenyataan, seorang manusia memiliki darah daging, ada kisah, ada nama dan bermarga, memiliki asal usul dan kisah, latar belakang atau impian di masa mendatang, termasuk untuk generasi penerus, disini terliat perasaan cinta, benci , dendam dan lain sebagainya, saya merasa ini merupakan ungkapan perorangan secara menyeluruh, saya merasa jika berbicara tentang keadilan, maka dimulai dari sini.”
Penghargaan literature sastra migran dan buruh migran ke-2 juga mengundang editor senior, Chow Ying-yuet(周月英), sutradara peraih penghargaan kuda emas, Tseng Wen-Chen(曾文珍), penulis ternama, Chu Tien-hsin(朱天心), dosen jurusan studi Asia Tenggara, Lee Mei-hsien(李美賢), mantan ketua pengurus museum sastra Taiwan, Lee Jui-teng(李瑞騰) untuk menjadi juri penilaian, selain itu pada tahun ini pertama kali mencoba mengikutsertakan generasi imigran asal Filipina, Vietnam, Thailand dan Indonesia sebanyak 6 orang mewakili tim juri menyeleksi 3 karya unggulan, diharapkan dengan kesempatan ini generasi kedua ini juga lebih mengenal kehidupan orang tua mereka.