Berdasarkan sebuah laporan survey terbaru memperlihatkan, pembuangan pangan dunia setiap tahunnya mungkin mencapai USD400 milyar (sekitar NTD12,5 trilyun / Rp4,8 billion), apabila setiap tahun dapat mengurangi 20%-50% makanan yang disia-siakan ini maka hingga tahun 2030 nanti dapat menghemat 120-300 milyar dollar Amerika (sekitar Rp. 1,5 - 3,7 billion).
Organisasi Anti-limbah Inggris dalam program “Aksi Pen-sia-siaan sumber” (Waste and Resources Action Programme/WRAP), yang tanggal 25 Februari waktu setempat mengeluarkan laporan terbaru di mana terlihat setiap tahun pen-sia-siaan produk pangan mencapai sekitar 1/3 sumber pangan. Ketua WRAP, Richard Swannell mengemukakan, masalah makanan yang disia-siakan merupakan masalah global, solusi masalah ini yang harus diprioritaskan, mencari titik utama timbulnya masalah, untuk mencapai cara yang paling efektif bagi ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Berdasarkan Organisasi Pangan dan Agrikultural (Food and Agriculture Organization/FOA) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), pembuangan limbah pangan dari produsen eceran dan konsumen di negara paling maju dunia dapat memenuhi 870 milyar penduduk yang mengalami kekurangan pangan global. Dalam laporan WRAP memperlihatkan, Setiap tahun Amerika Serikat membuang 60 juta ton makanan dengan nilai sekitar USD16,2 milyar yang mana ada 32 juta ton sisa makanan ini pada akhirnya dibuang ke tempat pembuangan limbah, setiap tahun pemerintah setempat harus mengeluarkan dana sebesar USD1,5 milyar untuk biaya pembersihan sampah ini. Pada tahun 2012, timbunan makanan yang dibuang dari seluruh rumah tangga di Inggris sama luasnya dengan 9 lapangan olah raga Wembley London.
Tetapi dalam laporan juga membeberkan, masalah pangan yang terbuang sia-sia tidak hanya terjadi di negara maju, negara belum berkembang seperti Afrika Selatan dan lainnya juga mengalami masalah seperti ini. Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dunia, masalah pembuangan makanan juga semakin parah, hingga tahun 2030 mendatang, karena lonjakan penduduk tingkat menegah, dikhawatirkan, pembuangan makanan oleh konsumen bisa mencapai USD600 milyar.
WRAP dalam laporannya memberikan saran reformasi untuk menurunkan pembuangan makanan, seperti menurunkan suhu rata-rata tempat pendingin makanan atau memperbaiki kemasanan makanan, memperbaikan peralatan dan perlengkapan pendingin makanan di negara berkembang yang mana untuk ini dapat mengurangi masalah pembuangan makanan sekitar 25%
Selain itu, pakar menyampaikan, pembuangan makanan tidak hanya menyebabkan kerugian bagi masyarakat social, tetapi juga menyebabkan pemanasan global dan masalah lain yang menyebabkan rusaknya lingkungan, untuk memproduksi pangan juga membutuhkan banyak air, pupuk, tanah, pendingin, pengangkutnan dan lainnya atau istilahnya membutuhkan modal biaya yang tidak sedikit. Sebagian besar penyia-nyiaan makanan pada akhirnya masuk ke tempat pembuangan sampah, dan pembakaran sampah menimbulkan emisi karbon yang setiap tahunnya mencapai 3,3 milyar ton karbon, ini sama artinya dengan 7% dari pembuangan karbon setiap tahunnya. FOA menyampaikan, Daratan Tiongkok dan Amerika Serikat merupakan negara yang berada di urutan terdepan pembuangan emisi karbon terbanyak.