(Taiwan-ROC) Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam rapat tanggal 12 Februari kemarin memutuskan untuk menyelenggarakan pemilu presiden dan legislator sekaligus pada pemilu 2016. Partai oposisi, Tree Party dan partai kecil lain yang menentang merasa kecewa, ketua Tree Party, Pan Han-chiang, menyampaikan, pemilu gabungan mungkin dapat menyebabkan pemilu terfokus pada dua partai besar candidat presiden, yang akan meredam suara dari legislator dan partai kecil.
Pan Han-chiang menegaskan, pemilu legislator mengunakan peraturan “dua suara” agar keragaman pendapat yang ada dapat terdengar dalam komite nasional, tetapi batasnya ditinggikan, untuk perolehan suara sebesar 5% dan nominasi kandidat legislator 10%, sehingga kesempatan bagi beberapa partai kecil untuk masuk dalam komite nasional, hal ini bertentangan dengan multi perkembangan partai; apabila pemilu legislator dan presiden dilangsungkan bersamaan, berarti memper kecil ruang bagi partai kecil untuk memberikan suaranya.
Namun, legislator Partai PFP (People First Party), Chen Yi-jie mengemukakan, setelah pemilu pemerintah daerah 9 in 1, masyarakat mulai memperhatikan kemampuan dari partai oposisi, hal ini berarti ruang bagi partai kecil semakin besar, tidak hanya “pan biru dan hijau”, tidak peduli pada pemilu gabungan presiden dan legislator, tidak perlu takut PFP termarjinalisasi ke pan hijau.
Chen Yi-jie mengatakan, masih banyak waktu sebelum penyelenggaraan pemilu, asalkan PFP memberikan sesuatu yang membuat mata luar terbuka, tidak peduli legislator yang dinominasikan, tentu juga dapat melakukan serangan mematikan.
Legislator Partai Taiwan Solidaritas Union (TSU), Lai Zhen-chang, membeberkan, pada pemilu presiden dan legislator sebelumnya, perolehan suara TSU cukup tinggi yaitu 1.180.000 suara, seharusnya kali ini juga tidak ada pengaruh, menghormati keputusan KPU.
Tetapi legislator PFP lain, Lee Tong-hao mengkritik, ada pembubaran system parlemen dalam peraturan konstitusi kali ini, sebagai alasan bagi KPU pusat untuk menstabilkan system pemilu, ini merupkan “kebodohan dalam pemahaman konstitusi”, mengabaikan ketidakstabilan institusional yang sebenarnya mungkin sudah ada.
Lee Tong-hao mengemukakan, harapan bagi Presiden Ma Ying-jeou turun, pertengahan Januari tahun depan akan mulai mengajukan nominasi kandidat presiden yang baru, dan akan ada masa peralihan selama 4 bulan, mungkin ada opini baru masyarakat terhadap Presiden Ma Ying-jeou, hal ini membuat pemerintahan jatuh dalam situasi siaga, yang mengakibatkan krisis konstitusional.