Taiwan sangat bergantung pada impor sumber energi, maka tidak boleh secara sembarangan melepaskan setiap opsi energi kalau tidak menginginkan kekurangan suplai listrik di masa depan.
Presiden Ma Ying-jeou mengungkapkan hal tersebut melalui kata sambutan yang disampaikan dalam pembukaan Konperensi Energi Nasional yang digelar di Taipei, hari Senin (26/1).
Menurut Ma, 98% dari sumber energi di Taiwan adalah diimpor, lagipula Taiwan adalah sebuah pulau yang memiliki jaringan listrik independen, maka tidak bisa langsung mengimpor energi listrik dari negara lain, maka setiap opsi energi tidak boleh sembarangan dilepaskan.
Ma mengatakan, “Saya menegaskan kembali di sini, bagi suatu negara yang 98% sumber energinya bergantung pada impor, untuk mencegah krisis kekurangan energi listrik, Taiwan tidak boleh secara sembarangan melepaskan setiap opsi energi, baik itu bersumber dari batu bara, minyak mentah, gas alam, tenaga nuklir, tenaga angin maupun tenaga surya. Pasalmnya, andaikata muncul masalah kekurangan listrik, Taiwan tidak mungkin langsung mengimpor energi listrik dari negara tetangga.”
Kepala negara setuju dengan seruan tidak dipakainya sumber energi nuklir di Taiwan, tapi menyarankan hal tersebut untuk dipromosikan secara perlahan-lahan melalui suatu cara yang tidak akan menimbulkan masalah kekurangan sumber energi, meninggikan beaya listrik atau melanggar komitmen Taiwan untuk mengurangi emisi karbon.
Presiden Ma juga mengemukakan, tim energi telah menetapkan lima premis bagi pengembangan sumber energi di masa depan, yaitu volume yang cukup, ekonomis, stabil, berkesinambungan dan bersih.
Kelima premis tersebut, tutur Ma, diharapkan bisa sepenuhnya didiskusikan dalam Konperensi Energi Nasional yang dijadwalkan berlangsung dua hari, agar perbedaan pendapat bisa menjadi lebih kecil dan suatu kesimpulan obyektif bisa dihasilkan.