(Taiwan-ROC) Kantor Persiapan Museum HAM Nasional yang bernaung dibawah Kementerian Kebudayaan, hari ini tanggal 27 Desember mengelar jumpa pers dan mengumumkan 150 nama korban insiden teror putih dari sejarah lisan tahap awal. Ketua panitia persiapan, Wang Yu-qun menyampaikan, terkait dengan hasil ini akan dimasukkan dalam situs resmi, berharap lebih banyak lagi orang, terutama kaum mudah yang lebih mengenal periode sejarah ini, dan jangan lagi timbul kesalahpahaman pengertian sejarah ini, selain itu juga berharap dapat lebih menghormati dan toleransi kebebasan dan keterbukaan masyarakat Taiwan.
Kantor Persiapan Museum HAM Nasional Taiwan tanggal 27 mengelar pers konferensi sejarah lisan “Mereka Yang Terlupakan”. Kepala Kantor Persiapan Museum HAM Nasional Taiwan, Wang Yu-qun dalam kata sambutannya menyampaikan, setelah 3 tahun kantor persiapan didirikan, hingga saat ini telah menyelesaikan sejarah lisan terkait dengan insiden teroris putih, dibawah situasi “harus dengan cepat menyimpan kenangan”, untuk masa mendatang akan berupaya keras mempercepat langkah mencari sejarah.
Selain bersama dengan organisasi masyarakat, pekerja budaya juga berkerja sama dengan biro kebudayaan setiap kota dan kabupaten untuk mengumpulkan catatan sejarah, Wang Yu-qun menekankan, kantor persiapan juga melakukan penyuluhan, agar kaum masyarakat muda bisa mendalami bagian sejarah ini. Wang juga mengemukakan, Museum HAM Nasional akan merangkum semua sejarah lisan yang berhasil dikumpulkan dan lebih lanjut kantor persiapan akan meneliti serta membenahi baru kemudian dimasukkan dalam situs resmi museum agar data ini dapat sewaktu-waktu digunakan oleh siapa saja; selain itu guna memberikan dukungan bagi kaum muda untuk lebih mendalami penelitian insiden terror putih, mulai tahun depan juga akan memberikan bea siswa bagi pelajar S3 dan S2. Wang menyampaikan, gelombang pertama sejarah lisan 150 orang korban insiden terror putih dapat terselesaikan berkat hasil kerja sama dengan “Asosiasi Teror Putih 1950” dan “Asosiasi Perawatan Korban Politik”.