(Taiwan – ROC) Presiden Republik Tiongkok Ma Ying-jeou menerima wawancara khusus dari New York Times, ketika ditanya apa kerugian bagi Beijing dan pengaruh bagi Taiwan sehubung dengan tidak dapat berlangsungnya pertemua Pres Ma dan pemimpin Daratan Tiongkok Xi Jin-pyng dalam Sidang Kerja Sama Ekonomi Asia Pacific (APEC). Beliau sudah berkali-kali menegaskan ROC tidak akan mempromosikan “Dua Tiongkok”, “Satu Tiongkok Satu Taiwan” ataupun “Taiwan Merdeka”, beliau beranggapan kekhawatir terhadap sisi lain terlalu berlebihan dan sangat menyesalkan pertemuan Ma dan Xi tidak dapat berlangsung di APEC.
Saat diwawancarain New York Times, kepala negara mengemukakan, pihaknya beranggapan APEC merupakan ajang yang paling tepat untuk pertemuan pemimpin antar selat Taiwan, tidak hanya tempatnya, judul dan posisinya juga telah diatur sedemikian rupa, terutama dari pihak Taiwan, dukungan dari penduduk sangat tinggi, tetapi pertimbangan Daratan Tiongkok terlalu banyak, kekhawatiran akan memberikan citra “Dua tiongkok” pada dunia.
Presiden menegaskan, dalam banyak kesempatan beliau sudah berkali-kali mengemukakan kalau Taiwan tidak akan mempromosikan kebijakan “Dua Tiongkok”, “Satu Tiongkok Satu Taiwan” ataupun “Taiwan Merdeka”, ini tidak diperkenankan dalam UU ROC, Ma sangat menyesalkan pertemuan pemimpin antar selat tidak dapat berlangsung. Selain itu ketika ditanya mengenai “Satu Negara Dua Sistem” yang dikemukakan pemimpin Daratan Tiongkok Xi Jin-pyng, dan berharap Taiwan dapat menerimanya, tetapi ini bertentangan dengan consensus 92, sehingga ini akan memiliki pandangan yang berbeda pada pembangunan jangka panjang hubungan lintas selat? Presiden Ma menyampaikan, Daratan Tiongkok mengemukakan kebijakan “Satu Negara Dua Sistem sekitar tahun 1982, saat itu sudah diberitahukan bahwa Taiwan tidak dapat menerimanya, dan dari jajak pendapat sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat menentang; mengenai consensus 92, jajak pendapat memperlihatkan “Satu Tiongkok dengan Masing-masing Persepsi” dimana “satu Tiongkok” yang dimaksuk adalah “Republik Tiongkok” mendapat banyak dukungan dari masyarakat Taiwan.
Presiden Ma menegaskan, 8 tahun sebelum beliau memimpin, hubungan antar selat Taiwan sangat tidak stbail, ini karena pemerintah saat itu tidak bersedia menerima prinsip “consensus 91”, sampai beliau menjabat sebagai presiden, dalam pidato pelatikannya dengan jelas menyampaikan pihak Taiwan mendukung “consensus 92, satu Tiongkok masing-masing persepsi”, hubungan antar selat Taiwan dengan cepat pulih, setelah itu berhasil menandatangani 21 perjanjian, untuk itu beliau berangapan hingga saat ini “consensus 92” merupakan dasar yang memiliki kaitan erat dengan hubungan antar selat Taiwan.