(Taiwan, ROC) – Hari ini (22) Presiden Republik Tiongkok Ma Ying-jeou (馬英九) berkunjung ke Kabupaten Kinmen untuk memperingati 65 tahun perang Guningtou (古寧頭). Dalam acara peringatan tersebut, presiden menyampaikan, 25 Oktober 1949, tentara partai komunis mendarat di Guningtou, Kinmen yang menjadi awal mulanya perang Guningtou. Saat itu lebih dari 10 ribu tentara partai komunis, menghadapi kekuatan militer musuh yang begitu besar, seluruh perwira negara kita merelakan jiwa untuk mempertahankan, perang yang menghabiskan waktu 56 jam itu telah menyendera lebih dari 7 ribu tentara partai komunis, sedangkan selebihnya tewas di medan perang, ada 1.267 perwira kita yang gugur, luka-luka 1.982 orang, boleh dikata kondisi saat itu sangat mengerikan.
Presiden mengatakan “Perang Guningtou adalah medan yang berat, pertumpahan darah, juga perang pertama untuk melindungi Taiwan, setelah perang ini terjadi, partai komunis baru saja selesai menyerang Hsiamen dan siap menyerang Kinmen, bahkan berencana untuk menelan Taiwan, kondisi saat itu sangat tidak menguntungkan kita, namun kemenangan perang Guningtou telah menjadi catatan sejarah yang memisahkan kepemerintahan antar selat.
Presiden Ma menyampaikan : Namun kemenangan perang ini selain memberikan semangat kepada rakyat juga telah menjadi landasan kuat perang 23 Agustus 1958, bahkan merubah krisis menjadi aman, menjadi catatan sejarah yang memisahkan kepemerintahan antar selat selama 65 tahun.
Kepala negara melanjutkan, kemenangan perang Guningtou bukan kebetulan tetapi berkat tekad bulat tentara nasional untuk melawan musuh, sehingga keamanan negara terjaga. Presiden menyampaikan, pengorbanan darah pahlawan kita digantikan dengan perdamaian dan kemakmuran, kita semua seharusnya belajar, meletakan dendam, membuka hati untuk meredamkan pertentangan, mengejar perdamaian antar selat yang berkesinambungan, inilah arti yang paling penting memperingati perang Guningtou.
Ia juga menuturkan, Kinmen sejak setengah abad yang lalu dari “medan perang” berubah menjadi “medan perdamaian” , kemudian beralih menjadi “pusat ekonomi yang makmur”, ketika Kinmen penuh dengan peluang maka tidak ada satu orang pun ingin perang, “Inilah pertahanan nasional yang paling baik”. Pemerintah akan terus berusaha untuk membangun Kinmen, sehingga seluruh penduduk Kinmen dapat menikmati keuntungan perdamaian yang dihasilkan dari perdamaian antar selat.
Masa depan harus semakin makmur, tegas beliau, antar selat akan menuju ke arah yang sejahtera, ini adalah harapan nasional juga target yang ditekuni oleh pemerintah.