(Taiwan, ROC) - Krisis keamanan minyak pangan terus menggelemuti Taiwan, Direktur Jenderal Biro Keamanan Nasional (NSB) Lee Shying-jow (李翔宙) hari ini menyampaikan bahwa hal tersebut telah berdampak terhadap nama baik raja kuliner dan ekport makanan Taiwan dimana hal tersebut telah berimbas pula kepada penandatanganan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) dengan negara lain.
Dalam sidang interplasi di komite hubungan internasional dan pertahanan hari ini (15) meminta Dirjen NSB untuk menyampaikan evaluasi dari persektif keamanan nasional serta solusi penyelesaian masalah imbas dari krisis keamanan minyak.
Dirjen Lee menyampaikan bahwa krisis keamanan pangan yang datang bertubi-tubi selain telah mengancam kesehatan masyarakat, merusak kewenangan pemerintah, berdampak kepada tingkat kepercayaan masyarakat kepada pasar pangan dalam negeri serta nama baik dan kemitraan dagang industri Taiwan.
Taiwan berupaya mendorong untuk melakukan penandatangan FTA dengan negara lain, ulasnya, ikut serta dalam integrasi ekonomi regional TPP namun dengan adanya masalah pangan telah berdampak negatif terhadap penandatanganan FTA. Ia menyampaikan : Masalah pangan ini telah merusak nama baik produk pangan kita di dunia, telah menjadi pukulan yang negatif antara kita dengan negara FTA. Selain Jepang dan Daratan Tiongkok yang telah mengeluarkan “Perintah Larangan” sehingga produk Taiwan diblokir, sangat dikhawatirkan akan mengganggu eksportir pangan kita, menjadi pukulan terhadap perdagangan internasional negara kita.
Selain itu, lanjutnya, NSB akan terus berkoordinasi untuk mengumpulkan informasi inteljen yang berkaitan dengan keamanan pangan, melalui kerjasama pertukaran informasi mengintegrasikan dengan kasus serta penanganan internasional, melakukan investigasi dan mendorong agar masyarakat ikut serta untuk melapor, mengumpulkan tanggapan dan saran secara keseluruhan, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk mentukan kebijakan.
Namun, menanggapi laporan dari Dirjen NSB, Menteri Ekonomi Tu Tze-chun (杜紫軍) hari ini menyampaikan bahwa sampai saat ini masih belum bisa memberikan tanggapan dan masih belum ada berita terkait.