Kementrian Ekonomi (MoE) berencana mendanai operator aplikasi kota pintar sebagai salah satu bagian dari upaya mempercepat perkembangan pelayanan wireless generasi keempat (4G).
Proyek tiga tahun yang bertujuan membangun kota pintar berdasarkan “model bisnis matang” itu akan mengizinkan operator telekom atau teknologi informasi untuk memohon subsidi bagi berbagai jenis aplikasi 4G yang berhubungan dengan isu keamanan, manajemen kesehatan, pengaliran uang tunai, hiburan, transportasi dan logistik, demikian menurut pejabat Biro Perkembangan Perindustrian dibawah MoE.
MoE diperkirakan akan mengalokasikan bujet sebesar NTD5,181 milyar (USD170 juta) untuk mendanai proyek yang akan dimulai pada 2015 itu. Secara terperinci, dana untuk tahun pertama berjumlah NTD2,466 milyar, untuk tahun kedua NTD1,305 milyar, dan untuk tahun ketiga NTD1,410 milyar.
Program dengan bujet lima milyaran dolar Taiwan ini adalah salah satu bagian dari program dengan anggaran NTD15 milyar, yang disediakan pemerintah untuk memperkecil jarak perkembangan 4G di Taiwan dengan Korea Selatan.
Taiwan memulai operasi 4G pada akhir Mei 2014 dan hingga Agustus, tercatat ada 643.094 pengguna layanan ini. Jumlah tersebut hanya mendominasi 4% dari pelanggan total layanan mobile, demikian berdasarkan data dari Komisi Komunikasi Nasional (NCC), lembaga tertinggi yang menangani masalah telekomunikasi di Taiwan.
Sebagai perbandingan, Korea Selatan saat ini adalah negara yang mencatat angka penetrasi 4G paling tinggi di dunia, yakni 60%, sejak meluncurkan layanan 4G pada 2011.