(Taiwan, ROC) – Pemimpin eksekutif Hongkong, Leung Chun-ying pada tanggal 2 Oktober menyatakan tidak bersedia turun jabatan, akan mengutus pejabat untuk berdialog politik dengan para pelajar. Alex Chow Yong-kang selaku sekjen dari kesatuan pelajar Hongkong mengatakan, sangat mengharapkan adanya waktu yang diberikan massa kepada pelajar berdialog dengan pemerintah. Setelah pukul 12.00 malam hari, massa yang menduduki distrik central secara perlahan berkurang, namun masih terlihat sekitar ribuan masyarakat tetap berada di lapangan.
Kesatuan pelajar Hongkong menuntut agar pemimpin daerah administrasi khusus Hongkong, Leung Chun-ying harus bertanggung jawab dan turun dari jabatannya, jika tidak maka massa akan bergerak untuk menduduki kantor kepala pemerintahan. Menghadapi massa, pihak polisi Hongkong pada tanggal 2 Oktober sore hari mulai mempersiapkan peluru karet, gas air mata, dan mengingatkan massa yang menyerbu garis penjagaan karena polisi selalu siaga dengan segala peralatan mereka.
Pada tanggal 2 Oktober pukul 11.00 malam hari, sekitar 2.000 pelajar mewakili masyarakat Hongkong menyerbu kantor pemimpin eksekutif Hongkong. Pihak kepolisian Hongkong mengutus ratusan petugas untuk menjaga keamanan kantor setempat, dalam waktu bersamaan sempat terjadi pertengkaran, pihak polisi mengimbau agar masyarakat tidak menerobos pembatas yang dijaga oleh pihak polisi.
Kondisi di lapangan sangat menegangkan, pada pukul 11.30 malam hari pemimpin eksekutif, Leung Chun-ying segera merilis konferensi pers, melalui pemberitaan secara langsung, oleh karena saluran radio tidak terdengar secara jelas, hampir sebagian besar masyarakat di lapangan menggunakan telpon selular mereka untuk mendengarkan penjelasan Leung Chun-ying.
Dalam konferensi pers Leung Chun-ying mengemukakan, tidak akan turun dari jabatannya, namun akan melakukan persiapan pemilihan hak suara; kepolisian memiliki toleransi luar biasa dalam menghadapi massa; akan mengutus sekjen pemerintahan daerah administrasi khusus Hongkong, Carrie Lam Cheng Yuet-ngor yang akan mewakili pemerintah dan akan berdiskusi dengan pelajar membahas diskusi reformasi politik. Ia mengatakan, massa yang ikut melakukan demo menunjukkan sikap cinta terhadap Hongkong, dan masih harus melawan pihak polisi, pejabat dan masyarakat lainnya. Mengenai pemimpin eksekutif Hongkong, Leung mengabaikan keselamatan masyarakat, menggunakan semprotan merica dan gas air mata untuk menunjukkan kekuasaannya, menyalahgunakan kekuasaan, terhadap tindakan ini Ia mengecam keras dan merasa sedih.
Usai konferensi pers ini, tidak sedikit dari masyarakat mulai membahas, sebagian besar orang secara perlahan meninggalkan lokasi, media massa yang meliput di lokasi demo juga terlihat mulai meninggalkan lapangan, hingga pukul 12.00 malam hari, kondisi di lapangan terlihat kumpulan massa semakin berkurang, namun masih ada lebih dari ribuan orang tetap melanjutkan aksi demo ini.