Beberapa tahun ini terakhir ini Daratan Tiongkok meletakan kebijakan kebijakan lintas selat Taiwan yang sebagian besar sekitar “Konsensus 92”, “Perkembangan Perdamaian Hubungan Lintas Selat”, namun kemarin tanggal 26 Sepetember tiba –tiba Presiden Daratan Tiongkok, Xi Jin-ping membeberkan kembali penyebutan “1 Negara 2 Sistem” yang tidak saja mengejutkan, tetapi juga menimbulkan spekulasi.
Xi Jin-ping ketika menemui ketua New Party, You Mu-ming, ketua New Revolutionary Allieance (NRA), Hsu Li-nung bersama 24 orang perwakilan politikus Taiwan di balai kemasyarakatan Beijing, yang pada awalnya kunjungan ini dianggap sebagai kunjungan kehormatan kelompok biru di Daratan Tiongkok dan tidak mendapat banyak perhatian dunia luar.
Namun dalam pertemuan ini Xi Jin-ping tidak saja mengungkit “reunifikasi damai, satu negara dua system adalah pedoman dasar Daratan Tiongkok untuk menyelesaikan permasalahan Taiwan” tetapi juga menekankan “1 negara 2 sistem” bentuk implementasi di Taiwan, akan dengan “sepenuhnya mempertimbangkan situasi actual Taiwan, sepenuhnya menyerap saran dan pendapat dari lintas selat Taiwan, dan akan sepenuhnya menjaga dan mengatur kepentingan rekan setanah air, Taiwan”
Sebenarnya “reunifikasi damai, 1 negara 2 sistem” sejak awal sudah menjadi opini konsisten Daratan Tiongkok terhadap masa depan lintas selat Taiwan; sedangkan perkataan serupa “1 negara 2 sistem” akan “sepenuhnya mempertimbangakan situasi actual Taiwan” juga sebelumnya sempat diungkit, oleh karena itu apa yang dikatakan Xi Jin-ping bukanlah hal yang baru.
Namun, semenjak Xi Jin-ping menjabat sebagai presiden, perkataan “1 negara 2 sistem” yang disampaikan pada kunjungan terbuka Taiwan merupakan yang pertama kalinya, sehingga begitu perkataan ini dikeluarkan langsung mendapatkan perhatian, bukan karena makna opini “1 negara 2 sistem” tetapi mengapa Xi Jin-ping memilih waktu sekarang ini mengungkit hal tersebut, membuat semua kalangan di Taiwan merasa terkejut dan merasa kurang dicintai, mengapa mundur kembali ke “1 negara 2 sistem”?
Seorang pakar urusan Taiwan yang tidak bersedia menyebutkan namanya beranggapan, Taiwan pada bulan Maret mengajukan permohonan penandatanganan perjanjian perdagangan jasa (PPJ), sedangkankaum mudanya bersatu menyatakan anti PPJ dengan aksi gerakan pelajar “bunga matahari”, hal ini selain membuat Daratan Tiongkok merasa perlu meninjau kembali kebijakan Taiwan, memperhatikan kaum muda Taiwan, dan juga membuat Daratan Tiongkok menyadari “Perbedaan pandangan identitas nasional, jauh lebih besar dari yang dibayangkan” yang ada di masyarakat Taiwan.
Pakar ini mengatakan, Xi Jin-ping mengungkit kata-kata “1 negara 2 sistem” selain karena tamu yang diterimanya adalah delegasi Taiwan, membahas masalah ini sudah sewajarnya, menjelaskan posisi dan target dari Daratan Tiongkok, ia juga beranggapan, kalau membahas soal posisi, sulit untuk menghindari masalah “kurang dicintai”, karena Daratan Tiongkok tidak dapat demi menyintai lalu mengoyangkan prinsip dan posisinya.