Sehubungan dengan aksi protes terhadap perjanjian kerjasama dagang dan jasa antar selat, pasar saham Taiwan kembali menghadapi situasi yang serba salah, baik tekanan dari dalam dan luar negeri, sehingga untuk akhir pekan ini, bursa saham Taiwan turun sebanyak 110 poin. Pihak investasi menyatakan pertikaian seputar masalah perjanjian hubungan dagang dan jasa, jika tidak diselesaikan secepat mungkin, maka akan memberikan pengaruh kepada bursa saham, walau untuk jangka waktu yang pendek. Sementara untuk jangka waktu menengah dan panjang, hal tersebut juga akan menurunkan daya saing Taiwan dalam dunia usaha internasional.
Aksi demo yang dilakukan oleh para mahasiswa dengan menyerbu masuk dan menduduki ruang rapat gedung Yuan Legislatif, telah menyebabkan rapat yang seharusnya dapat berlangsung tertunda. Kelompok demonstran yang mayoritas adalah para mahasiswa juga mengajukan beberapa permintaan, termasuk komunikasi langsung dengan Presiden Ma Ying-jeou. Istana Kepresidenan pada hari Sabtu tanggal 22 Maret mengeluarkan pernyataan bahwa Presiden Ma sendiri selalu bersikap terbuka untuk dapat melakukan komunikasi langsung dengan masyarakat. Selain itu juga menjunjung tinggi komunikasi secara damai dan bijak. Berkenaan dengan sikap para mahasiswa yang menyerbu masuk ke dalam gedung Yuan Legislatif, guna meminta pemerintah untuk membuka jalur komunikasi, Istana Kepresidenan menyatakan bahwa hal tersebut tidak dapat diterima.
Bursa saham Taiwan yang mendapatkan tekanan baik dari dalam dan luar negeri, pada akhir penutupan transaksi, total turun 110 poin untuk pekan ini, dengan berada pada level 8.577 poin. Melihat masalah aksi protes tersebut, pimpinan lembaga investasi Hua Nan, Tzu Hsiang-sheng, menjelaskan bahwa pihak mahasiswa juga masih memiliki rasa takut, sehingga juga akan memberikan pengaruh terhadap pasar perbankan. Jika tidak segera diselesaikan, maka untuk jangka waktu pendek, indeks bursa saham Taiwan sendiri juga akan turun menjadi 8.500 poin.
Tzu menjelaskan bahwa perjanjian kerjasama dagang dan jasa antar selat hanya merupakan sebuah pintu gerbang yang dibuka, agar Taiwan juga dapat menjalin hubungan kerjasama dengan negara lain di dunia internasional. Jika permasalahan aksi protes tersebut berkelanjutan, maka juga akan menunda waktu proses kerjasama dengan negara lain dalam hal perjanjian perdagangan. Yang lainnya, hal tersebut juga akan menurunkan daya saing Taiwan dalam dunia internasional.