History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Presiden Ma Akui Semangat Penghargaan Tang Prize Sinari Kekuatan Perangkat Lunak Taiwan

  • 18 September, 2014
  • Editor
Presiden Ma Akui Semangat Penghargaan Tang Prize Sinari Kekuatan Perangkat Lunak Taiwan
Upacara Penganugerahan Perhargaan Tang Prize

   (Taiwan, ROC) – Upacara penganugerahan penghargaan Tang Prize yang diibaratkan laksana penghargaan Noble dari Timur, digelar pada hari Kamis tanggal 18 September. Penghargaan Tang Prize sendiri dipelopori oleh Presiden Direktur perusahaan Ruentex Group, Samuel Yin. Penghargaan ini diberikan setiap selang 2 tahun, dan pemilihan pemenangnya dikuasakan kepada Akademia Sinica. Penghargaan Tang Prize untuk kategori pembangunan berkesinambungan atau Sustainable Development yang pertama, dianugerahkan kepada Gro harlem Brundtland, mantan Perdana Menteri wanita asal Norwegia, yang kini menjabat sebagai wakil ketua organisasi The Elders. Untuk kategori pendidikan biofarmasi atau Biopharmaceutical Science dianugerahkan kepada pakar asal Amerika, Dr. James P. Allison dan pakar asal Jepang, Honjo Tasuku. Untuk kategori pendidikan Tionghwa atau Sinology, diberikan kepada Yu Ying-shih. Sementara untuk kategori peraturan undang-undang atau Rule of Law, diberikan kepada mantan Kepala Hakim Albie Sachs dari Afrika Selatan, yang memprakarsai penulisan Undang-Undang Hak Asasi Manusia Afrika Selatan.

   Upacara penganugerahan penghargaan Tang Prize diselenggarakan pada hari Kamis sore tanggal 18 September di Sun Yat Sen Memorial Hall. Sebelum penganugerahan, Presiden Ma Ying-jeou pada hari yang sama waktu pagi, bertemu dengan para penerima penghargaan yang berkunjung ke Istana Kepresidenan. Presiden sendiri juga mengakui semangat yang ditunjukkan oleh Samuel Yin, yang telah turut melanjutkan semangat penghargaan Noble. Hal tersebut tidak saja hanya memberikan semangat untuk para peneliti dunia, tetapi juga memperkenalkan budaya Tionghwa, sehingga kekuatan Taiwan juga dapat ikut tersebar dalam kancah internasional.

   Presiden Ma Ying-jeou mengatakan, “Melanjutkan semangat yang ada dari penghargaan piala Noble, dalam menghadapi tugas dalam menjalankan pendidikan era baru, hal ini tidak saja hanya memberikan semangat kepada berbagai penemuan penting bagi bumi semata, tetapi juga turut memperkenalkan kebudayaan Tionghwa, sehingga kekuatan perangkat lunak Taiwan juga dapat berjaya dalam kehidupan sosial masyarakat internasional. Kita juga merasa bangga bahwa hal ini juga turut menunjukkan nilai keberadaan Taiwan.”

   Presiden Ma menyebutkan bahwa ke empat kategori penghargaan ini juga melambangkan tujuan masa depan manusia, yang juga menjadi hal yang sangat penting bagi Taiwan sendiri. Untuk kategori pembangunan berkesinambungan atau Sustainable Development, walaupun Taiwan kini tidak memiliki hak bersuara dalam organisasi PBB, juga tidak mengikuti kesepakatan UNFCCC dan juga Protokol Kyoto, namun sejak dirinya duduk dalam kursi pemerintahan telah berjanji untuk melakukan program pengurangan karbondioksida. Selain itu pemerintah juga telah memasukkan bidang pendidikan biofarmasi ke dalam salah satu dari enam industri jenis baru yang tengah dibangun.

   Dalam bidang peraturan undang-undang, Presiden Ma menjelaskan bahwa dirinya memberlakukan peraturan pengesahan protokol oleh dua pihak, mengundang pakar dunia untuk melihat dan memberikan pendapat tentang pembangunan hak asasi manusia di Taiwan. Untuk ke depannya, pemerintah juga akan terus memberlakukan peraturan undang-undang, dan memberikan perlindungan kepada setiap warga.

   Presiden Ma Ying-jeou menegaskan bahwa kebudayaan Republik Tiongkok adalah pelopor dalam perkembangan kebudayaan Tionghwa. Dirinya berharap kebudayaan ini dapat dikolaborasikan dengan kebudayaan dunia, dan tak lupa turut membangkitkan kebudayaan Tionghwa dengan berbasiskan kebudayaan Taiwan.

Komentar

Terbarumore