(Taiwan, ROC) – Salah satu hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh perusahaan HSBC Group, menunjukkan bahwa sebanyak 68% orang tua berkeinginan untuk menyekolahkan anaknya di luar negeri. Hal ini dimaksudkan untuk dapat meningkatkan kemampuan berbahasa asing yang dimiliki oleh sang anak, sehingga kelak dapat bersaing dalam dunia internasional. Selain itu juga, dengan menyekolahkan anaknya di luar negeri, dapat turut membantu memberikan kesempatan untuk belajar mandiri di negeri orang.
Perusahaan HSBC Group pada hari Sabtu tanggal 13 September mengumumkan sebuah jajak pendapat dengan tajuk “Nilai Pendidikan: Batu Loncatan untuk Menuju Kesuksesan”. Jajak pendapat tersebut ditujukan kepada 15 pasar, dimana mengikutsertakan sebanyak 4.500 orang tua yang memberikan pendapatnya dalam hal pandangan dan langkah yang akan mereka lakukan terhadap masalah pendidikan anak-anak.
Berdasarkan hasil jajak pendapat tersebut, ternyata terdapat 68% orang tua yang berada di Taiwan, yang mengijinkan anaknya untuk melanjutkan studinya di luar negeri. Dalam jajak pendapat lainnya, ditemukan sebanyak 75% orang tua yang beranggapan bahwa dengan menyekolahkan anaknya di negeri orang, maka dapat membantu kemahiran berbahasa asing dan akan lebih siap untuk bersanding dengan dunia internasional. Sementara itu, terdapat sebanyak 58% orang tua yang berpendapat bahwa dengan menyekolahkan anaknya ke luar negeri, dapat melatih sikap mandiri sang anak, dan 55% orang tua berpandangan bahwa dengan bersekolah di luar negeri akan lebih mudah untuk mendapatkan lowongan pekerjaan di masa yang akan datang.
Wakil Presiden Direktur untuk bagian manajemen keuangan dan sumber daya manusia perusahaan HSBC Group cabang Taiwan, Juang Huai-de mengatakan bahwa orang tua saat ini sangat peduli dengan masalah pendidikan anaknya, dan beranggapan bahwa pendidikan untuk sang anak tidak ternilai harganya. Sehingga dana pendidikan untuk sang anak juga telah menjadi sebuah rantai pengeluaran yang tidak dapat dielakkan. Hal ini tentu berhubungan erat dengan dana yang cukup besar yang harus dikeluarkan jika ingin menyekolahkan sang anak ke negara lain, khususnya di negara-negara bagian Barat.
Juang Huai-de juga menyampaikan bahwa program manajemen keuangan untuk biaya pendidikan anak di luar negeri akan lebih rumit dibandingkan biasanya, karena hal ini juga masih berhubungan erat dengan masalah kurs valuta asing. Sementara kurs valuta asing juga kerap mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sehingga resiko yang harus ditanggung oleh orang tua akan lebih besar, terlebih-lebih jika berkenaan dengan masalah waktu yang tepat untuk membeli mata uang asing.
Juang Huai-de menyarankan bahwa orang tua yang memiliki keinginan untuk menyekolahkan anaknya di negara lain, sebaiknya menggunakan sistim tabungan berkala, dan membeli beberapa jenis mata uang asing di waktu yang berbeda, sehingga dapat mengurangi resiko kerugian dalam waktu yang bersamaan, selain itu juga dapat mengurangi modal yang harus dikeluarkan oleh para orang tua.