(Taiwan, ROC) “Taiwan Defense TXX” yang diikuti 9 pensiunan jenderal dan 8 pensiunan letnan jenderal dari Taiwan, Amerika Serikat, dan Jepang berakhir pada kemarin (11/6). Terkait hasil latihan perang tersebut, pensiunan Letnan Jenderal Wang Shao-hua mengatakan bahwa latihan perang tersebut tidak mengacu pada menang atau kalah, tetapi menyimulasikan situasi yang mungkin terjadi semaksimal mungkin, sehingga pemerintah dapat menanganinya secara lebih komprehensif ketika benar-benar menghadapi krisis di masa mendatang.
Beberapa institusi diantaranya Taipei School of Economics and Political Science, Center for Peace and Security (CPAS), dan Council on Strategic and Wargaming Studies menggelar “Taiwan Defense TXX” yang berlangsung 2 hari pada tanggal 10-11 Juni 2025, mengundang mengundang 4 pensiunan jenderal AS dan Jepang, termasuk mantan Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat - pensiunan Jenderal Michael Mullen, mantan Panglima Komando Pasifik Amerika Serikat- Dennis Blair, mantan Kepala Staf Angkatan Udara Bela Diri Jepang- Shigeru Iwasaki, dan mantan Kepala Staf Pasukan Bela Diri Maritim Jepang - Tomohisa Takei, untuk berpartisipasi dalam konferensi pers internasional di Taiwan yang berlangsung kemarin sore.
Ketua Taipei School of Economics and Political Science, Huang Huang-hsiung (黃煌雄) mengatakan, CPAS telah menerbitkan dua laporan penilaian pertahanan, dengan harapan dapat memberikan dua dampak, yaitu yang pertama sebagai arahan, dan yang lainnya sebagai penguatan atau koreksi. Ini juga menjadi alasan diadakannya permainan perang ini. Institusi tersebut akan menerbitkan laporan ringkasan latihan perang tersebut dalam dua bulan, dengan harapan dapat memberikan saran bagi kebijakan pertahanan Taiwan.
Chairman Council on Strategic and Wargaming Studies, Alexander Huang (黃介正) mengatakan,
latihan perang ini dibagi menjadi empat tahap yaitu: pencegahan, pemaksaan, hukuman, dan agresi. Melalui berbagai intensitas ancaman militer terhadap Taiwan, kelompok peserta berperan sebagai Taiwan, Jepang, AS, dan Partai Komunis Tiongkok, disesuaikan dengan skenario yang dirancang berdasarkan kepentingan nasional dan pemikiran militer masing-masing. Hal terpenting tentang simulasi latihan perang bukanlah memberikan jawaban, tetapi untuk "merasakan denyut nadi" dan mengusulkan area yang perlu diperkuat oleh Taiwan.
Berdasarkan informasi, kemarin menjalani latihan militer hari kedua, Taiwan menghadapi serangan Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) secara menyeluruh, Taiwan mengerahkan kekuatan tempur asimetris, mengerahkan drone di seluruh Taiwan, dan melakukan operasi penyebaran ranjau. Angkatan Udara terus memperbaiki landasan pacu yang rusak untuk memastikan kekuatan tempur. Angkatan Udara mengirimkan jet tempur untuk menghancurkan pasukan TPR yang menduduki Qimei dan Wangan di Penghu. Angkatan darat di pulau utama Taiwan juga melakukan penyisiran terhadap pendaratan TPR sesuai rencana, dan zona operasi ke-3 angkatan darat ditempatkan di utara menjadi fokus pertahanan untuk pengamanan pusat.
Wang Shao-hua kali ini selaku penyusun skenario mengatakan, “lebih banyak perhitungan untuk kemenangan, daripada kekalahan." Pertahanan Taiwan dan Penghu berbeda dari lingkungan medan perang lainnya dan sulit disimulasikan, harus memperhitungkan bagaimana memanfaatkan selat dan sumber daya terbatas untuk menjamin keamanan Taiwan yang selalu terjaga.