(Taiwan, ROC) --- Kelangkaan beras di Jepang telah mendorong peningkatan ekspor beras Taiwan ke Jepang. Menurut media Jepang Kyodo News dan NHK, berdasarkan statistik Badan Urusan Pertanian, ekspor beras ke Jepang dari Januari hingga Mei tahun ini mencapai 7.759 ton, atau dengan kata lain meningkat 6 kali lipat lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan sekitar 2 kali lipat dari total ekspor tahun 2024. Diperkirakan total ekspor tahun ini akan melebihi 10.000 ton.
Saat menghadiri sidang interpelasi di Yuan Legislatif, Menteri Pertanian Chen Junne-jih (陳駿季), menyatakan bahwa kemasan beras yang dijual ke Jepang saat ini hanya mencantumkan Diproduksi di Taiwan. Ke depannya, akan ada rencana untuk menonjolkan karakteristik beras khas daerah Taiwan dan membantu membangun merek.
Baru-baru ini Jepang mengalami ketidakseimbangan permintaan dan pasokan beras serta kenaikan harga. Beras Taiwan dan Jepang sama-sama termasuk varietas japonica, dengan rasa yang hampir tidak ada bedanya, sehingga memberikan keunggulan kompetitif di pasar konsumen Jepang.
Data Statistik menunjukkan bahwa ekspor beras ke Jepang dari Januari hingga Mei telah mencapai 7.759 ton, atau 6 kali lipat lebih jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan diperkirakan total ekspor tahunan akan melampaui 10.000 ton, menciptakan rekor tertinggi dalam 5 tahun terakhir.
Popularitas beras Taiwan di tengah kelangkaan beras Jepang menjadi fokus perhatian anggota Yuan Legislatif di Komite Ekonomi. Anggota Yuan Legislatif dari partai DPP (Partai Progresif Demokratik) Chiu Yi-ying (邱議瑩) dalam sesi interpelasi menyebutkan bahwa setelah diekspor, kemasan beras Taiwan sulit mengidentifikasi varietas dan daerah asal di Taiwan, sehingga dinilai kurang membangun identitas merek.
Dia mendesak Kementerian Pertanian untuk membantu promosi branding agar beras berkualitas dari daerah di Taiwan dapat dikenal secara internasional. Menteri Pertanian Chen Junne-jih juga menyetujui hal tersebut.
Chen Junne-jih mengatakan, "Saya sangat setuju dan merasa ini memang harus dilakukan. Jika beras yang kita jual ke Jepang hanya bertuliskan Beras Produksi Taiwan, kita tidak bisa menonjolkan karakteristik daerah. Jadi sekarang kita aktif membantu asosiasi petani daerah atau kelompok produsen besar untuk membangun merek dan menghubungkan mereka dengan saluran distribusi. Dengan cara ini, merek beras dari daerah kita bisa langsung dipasarkan. Saya pikir kita akan aktif mendorong pendekatan ini."
Anggota Yuan Legislatif dari partai KMT (Kuomintang), Lin Te-fu (林德福) menunjukkan bahwa meski ekspor beras Taiwan ke Jepang saat ini terlihat optimis, tetapi ada warga Jepang yang menulis surat ke media menganalisis bahwa setelah krisis beras Jepang berakhir dan harga kembali turun, karena harga beras Taiwan dan Jepang hampir sama, dan kemungkinan konsumen Jepang untuk terus memilih beras Taiwan akan terbatas. Dia juga menanyakan kepada Chen Junne-jih apakah prestasi ekspor beras Taiwan ke Jepang mungkin hanya bersifat sementara saja?
Menanggapi hal tersebut, Chen Junne-jih menyatakan bahwa ekspor beras Taiwan ke Jepang bukan merupakan upaya Kementerian Pertanian untuk memanfaatkan krisis beras di Jepang. Kementerian Pertanian berharap menjadikan ekspor beras Taiwan ke Jepang sebagai pekerjaan berkelanjutan dan membangun rantai pasokan lengkap serta sistem merek dan distribusi terkait.
Bahkan ketika pasokan Jepang kembali stabil, beras Taiwan yang berkualitas tinggi masih dapat terus dipasok ke pasar premium Jepang.