(Taiwan, ROC) Menlu AS, Marco Rubio kemarin (28/5) mengatakan, AS akan membatal visa pelajar Tiongkok, termasuk bagi mereka yang berhubungan atau melakukan studi berkaitan dengan Partai Komunis Tiongkok.
Pemerintah AS di bawah pimpinan Presiden Donald Trump telah memperluas pemeriksaan media sosial pelajar asing, melakukan upaya deportasi dan pencabutan visa terhadap pelajar asing, ini menjadi bagian perluasan langkah untuk merealisasikan agenda keimigrasian Donald Trump yang sangat keras.
Dalam pernyataan Menlu AS Marco Rubio menyebut, Kementerian Luar Negeri akan melakukan revisi standar visa, meningkatkan pemeriksaan terhadap pengajuan visa bagi mereka yang berasal dari RRT, Hongkong.
Upaya untuk meningkatkan deportasi dan mencabut visa pelajar merupakan bagian dari upaya luas pemerintahan Trump untuk melaksanakan agenda imigrasi garis kerasnya. Rubio mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Departemen Luar Negeri juga akan merevisi standar visa untuk meningkatkan pengawasan terhadap semua permohonan visa mendatang dari Tiongkok dan Hong Kong.
Menlu AS Marco Rubio mengatakan, “Kemenlu AS bekerja sama dengan Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS, aktif memberlakukan pencabutan visa pelajar asing”.
Kedutaan Besar Tiongkok di AS tidak memberikan respons kepada media Reuters.
Tiongkok juga menjadi pusat perang dagang global bagi pemerintahan Donal Trump, perang dagang ini memicu kekacauan dalam sektor finansial, merusak rantai pasokan industri dan memperlemah ekonomi dunia.
Jumlah pelajar internasional Tiongkok yang studi di AS, mencapai puncak sebanyak 370.000 pada tahun 2019, angka menurun menjadi 277.000 pada tahun 2024, sebagian besar dengan alasan karena hubungan komunitas ekonomi negara adidaya yang merenggang dan pemerintah AS memberlakukan pemeriksaan terhadap pelajar Tiongkok.
Pada tanggal 27 Mei, Reuters memberitakan, menurut informasi telegram internal, Kemenlu AS telah menangguhkan interview pengajuan visa bagi calon pelajar yang ingin melanjutkan studi atau pertukaran kunjungan di AS.