(Taiwan, ROC) --- Tidak hanya musim hujan yang terlambat datang pada tahun ini, bahkan taifun pun belum muncul. Ahli klimatologi Jepang memperingatkan bahwa meskipun waktu pembentukan taifun lebih lambat, tetapi tidak berarti jumlah taifun akan berkurang pada tahun ini.
Justru malah berkemungkinan akan terjadi pembentukan taifun secara beruntun yang dapat menimbulkan dampak cukup serius.
Menurut laporan dari media Jepang, Weather Map, semenjak taifun nomor 26, Taifun Pabuk tahun lalu berubah menjadi tekanan rendah, sudah lebih dari 3.500 jam tidak ada taifun baru yang terbentuk.
Peramal cuaca Jepang, Yukito Katayama, menjelaskan bahwa biasanya taifun pertama akan terbentuk antara awal hingga pertengahan Maret setiap tahunnya.
Namun hingga Senin hari ini (26/5), belum ada satu taifun pun yang terbentuk, menjadikannya sebagai periode terpanjang ke dua belas dalam sejarah.
Yukito Katayama menekankan bahwa meskipun taifun pertama tahun ini baru terbentuk setelah bulan Mei, tetapi hal ini tidak berarti jumlah taifun akan berkurang karena faktor keterlambatan waktu.
Malah frekuensi pembentukan taifun secara beruntun justru dapat semakin tinggi.
Sebagai contoh, pada tahun 1998 yang merupakan tahun dengan pembentukan taifun paling lambat, masih tercatat ada 16 taifun yang terjadi pada sepanjang tahun tersebut.
Prediksi terbaru juga memperlihatkan bahwa jumlah taifun pada Juli dan Agustus tahun ini kemungkinan akan meningkat, dengan dampak terhadap Jepang yang mungkin lebih besar dari biasanya.
Yukito Katayama mengambil contoh tahun 2016, di mana taifun pertama baru terbentuk pada Juni, tetapi pada bulan Agustus terjadi 3 taifun yang berturut-turut mendarat di Hokkaido.
Hal ini menyebabkan kerusakan parah pada sektor pertanian setempat, terutama pada industri kentang, yang kemudian mengakibatkan krisis pasokan keripik kentang.