(Taiwan, ROC) --- Setelah pandemi, permintaan penerbangan meningkat dan harga tiket pesawat melambung tinggi. Membuat banyak orang merasa bahwa masa di mana harga tiket murah tidak akan ada lagi. Namun, meski demikian masih banyak orang yang ingin bepergian ke luar negeri.
Huang Zheng-cong (黃正聰), tenaga pengajar di Jurusan Pariwisata Providence University, mengumpulkan data pendapatan industri transportasi yang terdaftar di bursa Taiwan untuk periode April 2025.
Maskapai EVA Air meraih posisi pertama dengan pendapatan NT$18,4 miliar, diikuti oleh China Airlines dengan NT$17,9 miliar. Untuk sektor transportasi non-penerbangan, Taiwan High Speed Rail (THSR) memimpin dengan pendapatan NT$4,5 miliar.
Berbeda dengan EVA Air dan China Airlines yang pendapatannya melonjak, di industri penerbangan, hanya Uni Air yang mengalami penurunan pendapatan dibandingkan dengan tahun 2019 sebelum pandemi.
Huang Zheng-cong menjelaskan, "Setelah pandemi, penerbangan lintas selat berkurang, sementara rute jarak jauh ke Eropa Amerika dan Asia Tenggara bertambah. Karena Uni Air terutama melayani rute domestik dan lintas selat, maka pendapatannya lebih rendah dibanding sebelum pandemi."
Netizen yang pernah menggunakan EVA Air, maskapai dengan pendapatan tertinggi, berbagi pengalaman mereka di internet.
"Saya sangat menyukai layanan EVA Air dan pramugarinya. Kursi ekonominya lebih nyaman dibanding kelas ekonomi maskapai lainnya. Apalagi video pendek sebelum penerbangan sangat menggemaskan, terlihat maskapai ini sangat memperhatikan detail," tulis salah seorang netizen.
"Pengalaman pribadi saya dengan EVA Air selalu bagus, layanannya sangat sangat baik, take-off dan landing selalu mulus, fasilitas juga terawat dengan baik tidak terasa usang," terang lainnya.