(Taiwan, ROC) World Masters Games 2025 Taipei-New Taipei untuk cabang olahraga tenis meja tunggal putri 30+ (seri TT1-5), partisipan nenek berusia 62 tahun, Lu Bi-chun(盧碧春) bermain maksimal dan berkat dukungan dari keluarganya, kemarin (21/5) memenangkan 2 pertandingan berturut-turut. Ia mengatakan, “sangat jarang dapat berpartisipasi dalam kompetisi besar, tentu saja, sangat berharap dapat membawa emas pulang!”
Sejak kecil Lu Bi-chun menderita polio dan tidak bisa bergerak dengan leluasa, hingga usia 42 tahun, karena dia mendampingi suaminya menghadiri suatu acara, untuk pertama kalinya bermain tenis meja, tidak diduga dirinya semakin menyukai bermain tenis meja. Dalam waktu singkat 3 tahun, ia berhasil memenangkan kejuaraan nasional dan medali perak di Asian Para Games pada tahun 2018. Ia juga mewakili Taiwan ikut dalam pertandingan di Rio de Janeiro 2016 dan Tokyo Para Games 2020, menjadi perwakilan Taiwan di kompetisi internasional dan dijuluki sebagai "nenek tenis meja terkuat".
Pertandingan cabor tenis meja (21/5), Lu Bi-chun berhasil mengalahkan lawannya dalam 3 putaran pertandingan awal, dan kemudian menaklukkan lawan dengan mudah, mencatat 3-0. Dia akan kembali bertanding pada hari Kamis ini (22/5)
Sebenarnya, putra bungsunya Lin Chih-yang(林子揚) yang mengusulkan untuk ikut berpartisipasi dalam pertandingan World Master Games Paralympic. Ia mengatakan, “pertandingan internasional seperti ini, berkesempatn untuk menunjukkan kemampuan diri. Sejak kecil Lin Chih-yang bermain tenis meja bersama ayahnya, hingga saat ini, setiap minggu masih menemani orang tuanya latihan.
Ia juga memuji profesionalisme dan skala World Masters Games kali ini ini. "Seluruh suasananya luar biasa, wasit dan perlengkapannya semuanya berstandar internasional, sangat menakjubkan!"
Selain berstatus sebagai atlet, Lu Bi-chun aktif latihan tenis meja paralympic. "Meskipun saya tidak bisa mengajarkan gerakan kaki, tapi saya bisa fokus pada teknis dan mentalitas." Ia kerap menyemangati murid-muridnya, "Jika saya bisa jadi pemain nasional, maka kamu juga bisa!" Dia sangat mengagumi Kimie Bessho asal Jepang yang berusia 75 tahun , yang menjadi panutan baginya, pemain usia tua dan juga disabilitas tetapi selalu bersemangat ikut kompetisi.
Kekuatan terpenting yang mendukungnya di sepanjang jalan adalah suaminya. Agar mereka lebih mudah berlatih, pasangan itu bahkan merencanakan ruang di belakang toko lotere yang mereka kelola untuk menaruh meja tenis meja. Setiap hari setelah toko istirahat, mereka berdua berlatih keras selama dua jam, dan latihan ini telah berjalan selama 17 tahun. Pasangan suami istri ini mengatakan, mereka akan terus bermain tenis meja hingga tua nantinya.”