(Taiwan, ROC) – NVIDIA pada hari ini (21/5) menggelar sesi tanya jawab dengan media global, tetapi acara tersebut melarang perekaman suara maupun video. Oleh karena itu, banyak media elektronik mewawancarai CEO NVIDIA, Jensen Huang sebelum acara tersebut dimulai.
Menanggapi isu pajak semikonduktor yang sedang dibahas oleh Gedung Putih, Jensen Huang menyatakan dirinya sangat yakin bahwa prosesnya akan berjalan lancar. Namun, saat menjawab pertanyaan media di dalam forum terkait pembatasan ekspor chip H20 ke Tiongkok oleh pemerintah Amerika Serikat (AS), Huang secara terang-terangan menyebut jika kebijakan tersebut keliru dan telah menyebabkan kerugian besar bagi NVIDIA.
Terkait isu pajak semikonduktor yang sedang dibahas oleh Gedung Putih, sebelum acara dimulai para media sempat menanyakan kepada Jensen Huang, apakah dirinya telah menyampaikan pendapat terkait hal tersebut. Huang menjawab bahwa ia tidak memiliki komentar khusus. Dirinya merasa perdagangan global saat ini sedang mengalami penyesuaian ulang, dan begitu situasinya stabil, maka industri juga akan turut menyesuaikan diri. Dirinya merasa sangat yakin bahwa semuanya akan berjalan dengan baik.
Jensen Huang mengatakan, “saya rasa perdagangan global tengah mengalami penyesuaian ulang. Begitu stabil, industri pun akan beradaptasi. Jadi saya sangat yakin semuanya akan berjalan lancar”.
Namun, ketika ditanya mengenai kebijakan pembatasan ekspor chip H20 buatan NVIDIA oleh pemerintah AS saat berada di dalam acara, yang diperkirakan menyebabkan kerugian hingga 5,5 miliar dolar AS, Jensen Huang terlihat sedikit marah. Dirinya menyatakan sangat menyesalkan kebijakan tersebut, karena pasar Tiongkok sangat penting bagi mereka.
Huang menjelaskan bahwa peneliti kecerdasan buatan (AI) di Tiongkok mencakup 50% dari jumlah peneliti AI di seluruh dunia. Dirinya berharap para peneliti ini dapat mengembangkan teknologi mereka di atas platform NVIDIA. Huang menambahkan bahwa salah satu model AI “DeepSeek” juga dikembangkan menggunakan teknologi NVIDIA, dan menurutnya ini adalah sebuah hadiah, baik untuk mereka maupun untuk dunia.
Selain itu, Huang menekankan bahwa pasar Negeri Tirai Bambu sangat besar, merupakan pasar komputer tersbesar kedua di dunia. Dirinya memperkirakan bahwa pada tahun depan, pasar AI bisa mencapai nilai 50 miliar dolar AS. Jika NVIDIA tidak bisa turut ikut menikmati peluang ini, menurutnya itu akan menjadi sebuah penyesalan besar. Kesempatan ini seharusnya bisa membawa pemasukan pajak bagi AS, menciptakan lapangan kerja, serta menjaga daya saing industri.
Jensen Huang bahkan secara blak-blakan menyatakan bahwa menurutnya kebijakan tersebut adalah keliru dan gagal. Dirinya menjelaskan bahwa berdasarkan data, empat tahun lalu ketika pemerintahan Biden baru dimulai, pangsa pasar NVIDIA di Tiongkok hampir mencapai 95%. Namun kini, angka itu tinggal sekitar 50% saja, dan sisanya diisi oleh teknologi buatan Tiongkok.
“Belum lagi kami harus menjual chip dengan spesifikasi lebih rendah” ujarnya, menekankan bahwa hal tersebut menyebabkan kerugian pendapatan yang besar, sementara tidak ada perubahan signifikan yang terjadi.
Peneliti AI di Negeri Tirai Bambu, lanjutnya, tetap melakukan riset AI seperti biasa. Jika mereka tidak bisa menggunakan produk NVIDIA, mereka akan beralih menggunakan banyak teknologi lokal. Mereka akan memakai alternatif yang kualitasnya sedikit di bawah, tetapi itu justru akan mempercepat perkembangan perusahaan-perusahaan lokal di sana.