(Taiwan, ROC) -- Kementerian Lingkungan Hidup (MOENV) Taiwan pada hari ini (16/5) merilis “Buku Putih Kebijakan Kualitas Udara” yang baru sebagai pedoman utama untuk program pengendalian polusi udara tahap ke-3. Buku putih ini merinci 62 langkah konkret ke depan, dengan prioritas utama pada pengurangan polusi dari sektor transportasi dan sumber emisi difus dari kehidupan sehari-hari. Selain itu, kualitas udara dalam ruangan juga akan masuk dalam pengawasan, dengan target menurunkan rata-rata tahunan PM2.5 (partikulat halus) menjadi 10 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada tahun 2030.
MOENV pada akhir tahun lalu mengumumkan dimulainya penyusunan “Buku Putih Kebijakan Kualitas Udara” yang baru sebagai inti dari program pengendalian polusi udara tahap ke-3. Proses penyusunannya dilakukan secara partisipatif dari bawah ke atas melalui empat tahap, yakni “Kolam Harapan Udara Bersih”, “Platform Strategi Pengelolaan Kualitas Udara Taiwan”, “Kedai Kopi Warga”, dan Forum Inovasi Teknologi. Buku putih ini menyerap sebanyak 570 masukan dari masyarakat umum, serta para pakar dan akademisi. Isu polusi yang paling menjadi perhatian masyarakat adalah sumber transportasi, disusul oleh sumber industri dan emisi difus dari aktivitas sehari-hari.
Direktur Jenderal Urusan Lingkungan MOENV, Huang Wei-ming (黃偉鳴) menunjukkan bahwa upaya perbaikan polusi udara kini telah memasuki tahap yang lebih menantang. Buku putih ini menetapkan visi kualitas udara yang berorientasi pada kesehatan. Selain peningkatan sistem peringatan dini dan respons yang lebih tepat sasaran, kebijakan ini juga menitikberatkan pada hak atas udara bersih bagi anak-anak dan kelompok rentan, dengan memasukkan kualitas udara dalam ruangan sebagai inti kebijakan. Salah satu fokus utama adalah perbaikan kualitas udara di lingkungan sekolah, yang akan dilakukan melalui pengurangan emisi dari kawasan industri di sekitar sekolah, serta pemasangan alat pemantau kualitas udara dalam ruangan.
Dalam hal pengendalian polusi, penekanan akan diberikan pada pengurangan emisi dari transportasi dan sumber difus kehidupan sehari-hari, termasuk tindakan terhadap bengkel modifikasi kendaraan ilegal, pengawasan berbasis teknologi, serta pengendalian emisi dari alat berat konstruksi. Untuk mendukung implementasi kebijakan, teknologi kecerdasan buatan (AI) juga akan diterapkan guna meningkatkan efektivitas penegakan hukum dan perbaikan kualitas udara.
Menteri MOENV, Peng Chi-ming (彭啓明) mengemukakan bahwa buku putih kebijakan kualitas udara yang baru terdiri dari empat bab utama dan mencakup sebanyak 42 isu kunci. Berbeda dari pendekatan sebelumnya, kebijakan kali ini berlandaskan pada sains dan berpijak pada aspirasi publik. Melalui kerja sama lintas kementerian, pihaknya telah merumuskan 62 rencana kerja konkret untuk di kemudian hari, termasuk 26 kebijakan hukum yang akan dibuat atau direvisi. Pemerintah juga akan mendorong revisi Undang-Undang Pengendalian Polusi Udara, dengan target menurunkan rata-rata tahunan PM2.5 menjadi 10 mikrogram per meter kubik (µg/m3) pada tahun 2030, dan lebih lanjut menjadi 8 mikrogram per meter kubik (µg/m3) pada tahun 2035.
Peng menyebutkan jika MOENV juga akan mengikuti perkembangan internasional dengan menetapkan PM1 (partikel halus ultrafine) sebagai salah satu target utama pengurangan polusi. Saat ini, Uni Eropa dan negara-negara maju telah mulai merumuskan standar terkait PM1. Taiwan pun tengah mengumpulkan masukan dari para ahli, dan ke depannya akan mendorong pemantauan PM1 serta penyusunan regulasi terkait.