(Taiwan, ROC) – Sebagai respons terhadap kebijakan baru pungutan karbon yang baru-baru ini disahkan oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO), perusahaan pelayaran Taiwan telah mulai memesan kapal dengan bahan bakar ganda seperti gas alam cair (LNG) atau metanol. Untuk mendukung transformasi hijau ini, Biro Maritim dan Pelabuhan Kementerian Transportasi dan Komunikasi (MOTC) Taiwan juga mempercepat pelatihan tenaga profesional yang dibutuhkan untuk pengoperasian kapal berbahan bakar energi baru.
Meskipun IMO yang beranggotakan 175 negara telah menetapkan target pengurangan emisi sebesar 20% pada tahun 2030 sejak tahun 2023, tetapi hasilnya hingga saat ini masih jauh dari yang diharapkan. Oleh karena itu, IMO pada bulan lalu secara tidak biasa mengadopsi sistem baru pungutan karbon melalui mekanisme pemungutan suara. Ini menjadi kebijakan global pertama yang secara khusus mengenakan pungutan karbon terhadap industri pelayaran, dan dijadwalkan mulai berlaku pada tahun 2027 dengan pemungutan biaya dimulai pada tahun 2028. Berdasarkan aturan ini, kapal laut besar berbobot kotor di atas 5.000 ton yang melebihi batas emisi karbon akan dikenakan biaya sebesar 100-380 dolar AS untuk emisi yang melebihi ambang batas.
Faktanya, demi mewujudkan visi netral karbon pada tahun 2050, sejumlah perusahaan pelayaran nasional seperti Evergreen, Yang Ming, Wan Hai, dan U-Ming telah lebih dahulu memesan total 85 kapal berbahan bakar ganda yang menggunakan energi baru seperti LNG atau metanol. Namun, berdasarkan Konvensi STCW (Konvensi Internasional tentang Standar Pelatihan, Sertifikasi dan Jaga Malam bagi Pelaut), setiap awak kapal yang bertugas di kapal berbahan bakar ganda diwajibkan untuk terlebih dahulu menyelesaikan pelatihan profesional sesuai dengan Kode IGF, yakni “Kode Keselamatan Internasional untuk Kapal yang Menggunakan Gas atau Bahan Bakar dengan Titik Nyala Rendah Lainnya”.
Untuk itu, setelah sebelumnya pada Agustus tahun lalu dan Februari tahun ini Biro Maritim dan Pelabuhan telah membantu Universitas Kelautan Nasional Taiwan (NTOU) membuka pelatihan dasar dan lanjutan Kode IGF, baru-baru ini mereka kembali mendukung Universitas Sains dan Teknologi Nasional Kaohsiung (NKUST) dalam menyelenggarakan pelatihan dasar Kode IGF. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat pengembangan tenaga profesional yang dibutuhkan oleh perusahaan pelayaran nasional dalam proses transformasi hijau mereka.
Kepala Bagian Kru Biro Maritim dan Pelabuhan, Huang Yi-qiao (黃奕僑) dalam sebuah wawancara pada hari ini (16/5) menyebutkan bahwa pelatihan yang digelar oleh NTOU telah meluluskan hampir 400 peserta. Sementara itu, NKUST dijadwalkan akan memulai pelatihan pada tanggal 27 Mei mendatang, guna memudahkan para pelaut di wilayah selatan untuk mengikuti kelas secara lokal. Perusahaan pelayaran nasional diperkirakan akan membutuhkan sebanyak ribuan pelaut profesional untuk mengoperasikan kapal berbahan bakar energi baru, dengan personel di tingkat manajemen diwajibkan untuk menyelesaikan pelatihan tingkat lanjut.
Huang Yi-qiao (黃奕僑) mengatakan, “Materi pelatihan dasar ini pada dasarnya mencakup karakteristik bahan bakar gas, identifikasi serta pencegahan risiko, dan juga perlindungan terhadap kebakaran dan ledakan. Semua ini bertujuan agar peserta memiliki pengetahuan awal dan kemampuan dasar operasional untuk dapat bekerja di atas kapal berbahan bakar ganda. Bagian dasar pelatihan lebih menekankan pada teori dan pengetahuan akademik, sementara pelatihan tingkat lanjut akan dilengkapi dengan penggunaan simulator dan latihan praktik. Hal ini karena pelatihan tingkat lanjut umumnya ditujukan bagi pelaut pada jenjang manajemen kapal, seperti nahkoda, kepala mesin, dan mualim satu, yang diwajibkan memiliki sertifikasi lanjutan Kode IGF”.
Huang juga menunjukkan, sertifikasi Kode IGF yang diperoleh dari dua universitas tersebut diakui secara internasional, termasuk oleh Belgia dan Singapura. Adapun pelatihan dasar berlangsung selama 3 hari dengan biaya sebesar NT$15.000, sedangkan pelatihan lanjutan akan berlangsung selama 5 hari dengan biaya NT$20.000.