(Taiwan, ROC) --- Taiwan memiliki banyak toko obat tradisional Tionghoa. Pada masa kejayaannya, jumlahnya mencapai 15.000 toko. Namun, setelah lebih dari 20 tahun berlalu, lebih dari 8.000 toko telah tutup, menyebabkan setidaknya 10.000 orang kehilangan pekerjaan.
Hingga tahun lalu, hanya tersisa sekitar 7.000 toko, jumlahnya telah berkurang setengahnya.
Menanggapi situasi ini, Hsieh Ching-tang (謝慶堂), Ketua Asosiasi Nasional Pedagang Obat Tradisional Tionghoa, memperkirakan bahwa jika kondisi terus memburuk, mungkin akan tersisa kurang dari 3.000 toko dalam 10 tahun ke depan.
Toko obat tradisional Tionghoa dahulu sangat populer di Taiwan. Generasi yang lebih tua sering membeli bahan-bahan obat atau rempah-rempah yang umum digunakan. Namun, seiring dengan perkembangan kedokteran Barat, semakin banyak orang yang memilih untuk berobat ke dokter ala Barat dan mengonsumsi obat-obatan modern, menyebabkan toko obat tradisional Tionghoa perlahan-lahan mengalami kemunduran.
Menurut analisis Hsieh Ching-tang, statistik dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan (MOHW) menunjukkan bahwa 30 tahun lalu terdapat sekitar 15.000 pedagang obat tradisional Tionghoa, tetapi kini hanya tersisa sekitar 7.000.
Hsieh Ching-tang menekankan bahwa jumlah pedagang obat tradisional Tionghoa telah menurun drastis. Dua puluh tahun lalu masih ada lebih dari 15.000 toko, tetapi hingga 2024 hanya tersisa sekitar 7.000 toko.
Diperkirakan kurang dari 3.000 toko akan bertahan dalam 10 tahun ke depan. Dia menyayangkan bahwa banyak generasi penerus apotek yang melihat tidak adanya prospek masa depan dan enggan untuk terjun ke bidang ini.
Menurutnya, pendidikan universitas yang komprehensif dapat membantu mengatasi kekurangan tenaga terampil di industri ini.

圖:YAHOOTAIWAN
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pada tanggal 18 Maret lalu, otoritas MOHW mengumumkan penambahan interpretasi pada bagian kedua Pasal 103 Ayat 2 Undang-Undang Farmasi. Interpretasi tersebut menyatakan bahwa praktisi obat tradisional Tionghoa yang memiliki dokumen sertifikasi untuk menjalankan bisnis obat tradisional Tionghoa dan telah menyelesaikan kursus obat tradisional Tionghoa hingga standar yang memadai, diperbolehkan untuk terus menjalankan bisnis penjualan obat tradisional Tionghoa.
Namun, interpretasi ini memicu ketidakpuasan di kalangan industri farmasi. Kelompok apoteker obat modern bahkan mengorganisir aksi protes di depan bangunan MOHW, menuntut pencabutan interpretasi tersebut.
Di sisi lain, dokter pengobatan tradisional Tionghoa dan pedagang obat tradisional Tionghoa justru mendukung penuh keputusan MOHW. Chu Pu-lin (朱溥霖), Ketua Asosiasi Pendidikan dan Promosi Pengobatan Tradisional Tionghoa, menekankan bahwa saat ini dunia kedokteran Barat sedang menghadapi krisis kekurangan tenaga perawat dan personel medis.
Selain itu, interpretasi yang dikeluarkan oleh MOHW tidak melanggar hak apapun yang berkaitan dengan apoteker, dan sama sekali tidak menyangkut hak peracikan obat, tetapi tetap saja mendapat halangan berulang kali.
"Apakah kita ingin membiarkan budaya pengobatan tradisional Tionghoa punah?" tanya Chu Pu-lin dengan nada prihatin.