History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Hanya Tidur 1-3 Jam Sehari, Tommy Chen Jadi Orang Asia Pertama yang Tuntaskan Ultra-Maraton di Lingkar Arktik!

  • 10 April, 2025
  • 陳柏萇
Hanya Tidur 1-3 Jam Sehari, Tommy Chen Jadi Orang Asia Pertama yang Tuntaskan Ultra-Maraton di Lingkar Arktik!
(Sumber foto: Tommy Chen)

(Taiwan, ROC) – Atlet ultra-maraton Taiwan, Tommy Chen (陳彥博) sekali lagi menembus batas kemampuannya dengan berhasil menantang jarak 617 kilometer dalam “6633 Arctic Ultra”, dan mencatat prestasi sebagai atlet Asia pertama yang berhasil menyelesaikan perlombaan tersebut sejak pertama kali digelar. Melalui seminar berbagi pengalaman setelah kembali ke tanah air yang digelar pada Rabu (9/4) kemarin, Tommy Chen (陳彥博) mengatakan “Tubuh saya telah mencapai kondisi batas ekstrem kehidupan!”.

Tommy Chen (陳彥博) berhasil menaklukkan jalur 617 km di Lingkar Arktik setelah menghabiskan waktu 7 hari 23 jam 19 menit, mencatatkan rekor sebagai atlet Asia pertama yang berhasil menyelesaikan perlombaan tersebut dalam 18 tahun sejarah event ini dihelat. Selama perlombaan, ia tidak hanya harus menghadapi suhu ekstrem di bawah minus 30 derajat, angin kencang, dan medan yang sangat sulit, tetapi juga harus mempertahankan fokus tinggi dalam jangka waktu yang lama, dengan hanya tidur 1-3 jam per hari. Meskipun tubuh dan pikiran sangat lelah, dan tak sedikit atlet terpaksa mundur karena hipotermia, ia tetap bertahan berkat kekuatan tekad yang luar biasa, dan berhasil menyelesaikan perlombaan dengan sukses.

Lingkungan jalur perlombaan sangat ekstrem, dengan suhu udara pada malam hari mencapai minus 42 derajat, ditambah angin kencang dan badai salju, membuat tantangan semakin berat. Selain itu, para peserta juga harus melalui pemeriksaan medis sebelum dapat melanjutkan perlombaan.

“Lingkungan jalur perlombaan kali ini jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya. Sebenarnya, saya sejak hari pertama sudah merasa takut, karena dari kota kecil menuju titik start Lingkar Arktik, saya dalam kurun waktu hanya 12 jam harus beradaptasi dengan suhu minus 9 derajat ke minus 30 derajat, itu benar-benar menyakitkan.” kata Tommy Chen (陳彥博).

陳彥博北極挑戰歸來,分享驚險生命威脅時刻。圖片取自陳彥博

Foto: 陳彥博

Tommy Chen (陳彥博) menyampaikan, dirinya merupakan satu-satunya atlet Asia dan juga yang paling takut terhadap dingin. Melihat mereka kadang hanya mengenakan dua lapis pakaian, sementara saya harus mengenakan 3-4 lapis agar merasa hangat.

“Saya ingat sekitar malam hari keempat, ketika saya harus melanjutkan jarak terjatuh, yakni 120km dalam satu tahap. Saat saya melintasi lapisan es, semua perlengkapan saya membeku. Suhu yang dingin membuat saya terus-menerus menggigil. Saya hanya berhenti selama 3 menit untuk makan, tetapi suhu tubuh saya langsung turun, dan jari tangan serta kaki saya terasa sakit akibat membeku. Saya mulai merasa takut, dan mulai berlari untuk meningkatkan suhu tubuh, dan saya membutuhkan waktu hingga satu jam barulah jari-jari tangan dan kaki saya kembali terasa hangat. Saya sama sekali tidak berani berhenti melangkah, dan benar-benar merasa takut.” ujar Tommy Chen (陳彥博).

Chen menyampaikan bahwa karena suhu yang sangat rendah, sol sepatunya pun membeku dan kehilangan fungsi peredam kejut, sehingga setiap langkah terasa seperti menginjak gelembung air, dan rasa sakit di punggung membuatnya harus berhenti untuk beristirahat setiap 3 km. “Saya menggertakkan gigi dan terus maju, melihat banyak atlet mundur karena kehilangan panas tubuh atau kelelahan yang menyebabkan gangguan mental. Saya bahkan sempat berpikir untuk menyerah. Secara fisik, saya baik-baik saja, tetapi secara mental, saya merasa sudah mencapai batas kehancuran.” kata Tommy Chen (陳彥博).

Chen melanjutkan, “Di tengah malam, setelah berteriak dan melampiaskan amarah, saya pun mulai tenang seiring waktu. Saya mencoba melangkah lagi, satu langkah demi satu langkah. Saya sudah menghabiskan banyak waktu untuk persiapan dan juga biaya yang cukup besar. Saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya masih bisa bertahan sedikit lebih lama, mencoba sedikit lebih keras. Hal yang perlu saya lakukan sangat sederhanya, yakni hanya terus melangkah maju. Saya tidak ingin menyerah begitu saja. Dan pada saat-saat paling menyakitkan itu, saya merasa bangga dapat bertahan. Saya tahu bahwa menemukan motivasi di saat-saat yang paling sulit merupakan hal yang sangat penting.”

Karena kondisi perlombaan yang sangat berat, dengan suhu yang terus-menerus berada di sekitar -30°C, para peserta harus sangat berhati-hati agar tidak mengalami radang dingin (frostbite). Dengan membawa perlengkapan seberat 25 kg dan keterbatasan makanan serta air, Tommy Chen (陳彥博) kehilangan 8kg berat badan saat mencapai garis finis. Tommy Chen (陳彥博) mengatakan bahwa selama perjalanan ini, dirinya menerima banyak dukungan dan dorongan dari orang-orang di sekitarnya. Setelah berhasil menyelesaikan tantangan ini, tekadnya untuk terus menantang batas dirinya di kemudian hari pun semakin membara.

“Taiwan adalah negara kepulauan, kita memiliki banyak hal yang harus dipelajari dan dijelajahi dalam bidang petualangan, baik dalam hal konsep, teknik, maupun budaya. Saya juga yakin, kita tetap bisa melakukannya meskipun dibatasi oleh lingkungan.” tambah Chen.

Setelah kembali ke Taiwan dan beristirahat sejenak, Tommy Chen (陳彥博) akan kembali menjalani latihan serta melanjutkan kegiatan sosialnya lewat program runfordream, yakni rangkaian seminar motivasi di sekolah-sekolah seluruh Taiwan yang kini telah memasuki tahun ke-12. Hingga saat ini, dirinya telah berbagi cerita dan inspirasi di 312 sekolah, dan ke depannya ia berharap bisa mencapai target 500 sekolah.

陳彥博北極挑戰歸來,分享驚險生命威脅時刻。陳國偉攝

Foto: Yahoo/陳國偉攝

Komentar

Terbarumore