History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Mengapa Taiwan Tidak Mengambil Tindakan Pembalasan terhadap Pengenaan Tarif Balasan 32% oleh AS?

  • 07 April, 2025
  • 陳柏萇
Mengapa Taiwan Tidak Mengambil Tindakan Pembalasan terhadap Pengenaan Tarif Balasan 32% oleh AS?
(Sumber foto: CNA)

(Taiwan, ROC) – Setelah Amerika Serikat (AS) memberlakukan tarif balasan, Kanada dan Negeri Panda secara berurutan mengajukan langkah-langkah pembalasan. Kini, muncul kabar bahwa Uni Eropa juga akan menerapkan gelombang pertama tindakan balasan terhadap barang impor dari AS. Hal tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan publik, jikalau AS menginginkan TSMC pindah ke AS, apakah Taiwan tidak memiliki kekuatan untuk mengajukan tindakan balasan juga?

Para akademisi berpendapat bahwa dibandingkan dengan negara-negara seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Uni Eropa yang memiliki pasar domestik besar, Taiwan memiliki pasar yang kecil sehingga sulit melakukan pembalasan setara. Oleh karena itu, Taiwan disarankan untuk lebih memilih jalur dialog. Kunci dari negosiasi ini adalah memperjuangkan perlakuan tarif yang sama seperti yang diterima oleh Jepang, Korea Selatan, dan Filipina.

Terkait dengan pengenaan tarif tambahan sebesar 32% oleh AS terhadap Taiwan, Presiden Lai Ching-te (賴清德) menyatakan bahwa Taiwan tidak akan mengambil langkah pembalasan, dan mengusulkan agar Taiwan dan AS memulai pembicaraan dari konsel “nol tarif”. Namun, mengapa Taiwan tidak dapat memberlakukan tindakan balasan?

Wakil Kepala Lembaga Penelitian Ekonomi Chung-Hua (CIER), Wang Jian-quan (王健全) saat menerima wawancara menunjukkan, dibandingkan dengan negara-negara seperti RRT dan Uni Eropa yang memiliki pasar domestik yang besar, Taiwan memiliki pasar yang kecil sehingga tidak dapat melakukan pembalasan yang setara. Bahkan Meksiko yang memiliki populasi lebih dari 100 juta pun tidak berani melakukan pembalasan, apalagi Taiwan yang hanya memiliki 23 juta penduduk.

Mengenai apakah pemerintah dapat membuat Negeri Paman Sam melunak jika tidak mengizinkan TSMC berinvestasi di AS, Wang Jian-quan (王健全) menyatakan bahwa keunggulan Taiwan terletak pada desain IC, jasa manufaktur semikonduktor, serta pengujian dan pengemasan chip. Namun, untuk bahan baku dan peralatan hulu, Taiwan masih bergantung pada impor. Jika TSMC tidak membangun pabik di AS, bukan tidak mungkin pihak AS akan bekerja sama dengan negara-negara sekutunya untuk membatasi pasokan ke Taiwan, misalnya dengan membatasi akses Taiwan terhadap mesin litografi dari ASML, fasilitas Applied Materials, serta perangkat lunak desain EDA.

Wang Jian-quan (王健全) mengatakan, “AS bisa saja melalui Jepang meminta agar berbagai produk kimia dan mineral langka tidak dijual ke Taiwan. Lihat saja, mereka bisa melarang ASML untuk tidak menjualnya ke RRT, jadi apakah tidak mungkin mereka juga melarang penjualan ke Taiwan? Keunggulan utama Taiwan masih terletak pada desain IC, manufaktur semikonduktor, dan pengujian serta pengemasan chip. Namun, untuk peralatan di hilir belum begitu kuat, dan bahan baku di hulu seperti bahan kimia juga masih lemah. Jadi, jikalau TSMC tidak pergi ke AS, bisa jadi situasi Taiwan justru akan semakin buruk.”

Kepala Institut Penelitian Ekonomi Taiwan (TIER), Sun Ming-de (孫明德) juga menyatakan bahwa AS bukanlah negara produsen besar. Jika ingin melakukan pembalasan, maka kita harus melihat apa yang kita beli dari mereka. Kita bisa memilih untuk tidak membeli dari mereka dan beralih ke negara lain. Namun, saat ini Taiwan membeli pesawat dan senjata api dari AS, dan siapa lagi yang bisa kita beli dari mereka? Oleh karena itu, tindakan pembalasan tidaklah memungkinkan.

Wang Jian-quan (王健全) menegaskan, bagi politisi seperti Donald Trump, “jangan berbicara tentang demokrasi dan kebebasan, tetapi bicarakan tentang kepentingan nyata”. Yang terpenting adalah mengajukan “apa kartu yang saya miliki” dan “apa yang bisa saya bantu untuk mewujudkan visi politik Anda”. Wang menyarankan Taiwan dapat menawarkan kartu yang bisa dipertukarkan, seperti membeli produk militer atau produk pertanian AS untuk mengurangi surplus perdagangan; mengajak perusahaan seperti TSMC dan UMC untuk berinvestasi di AS dan membangun rantai pasokan yang lengkap; serta Taiwan bisa menjadi mitra penting dalam upaya reindustrialisasi AS, membantu membangun industri manufaktur, menciptakan lapangan pekerjaan, serta menyediakan teknologi dan pelatihan.

Wang Jian-quan (王健全) juga menyampaikan bahwa strategi negosiasi sebaiknya dimulai dengan “nol tarif sebagai batas teratas”, kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan lebih lanjut. Tarif produk industri Taiwan sudah relatif rendah, sehingga masih ada ruang untuk negosiasi. Kuncinya adalah untuk memperjuangkan perlakuan tarif yang setara, seperti yang diterima oleh Jepang, Korea Selatan, dan Filipina.

Komentar

Terbarumore