(Taiwan, ROC) --- Pada Kamis kemarin (3/4), Presiden AS Donald Trump mengumumkan serangkaian kebijakan tarif, menyebabkan pasar saham global terpuruk dan akan berdampak besar pada peta perdagangan global.
Media Reuters melaporkan bahwa Apple akan menjadi korban terbesar, jika Apple memilih untuk mengalihkan biaya kepada konsumen, maka harga iPhone Pro Max di masa depan bisa naik lebih dari 30% hingga 40%, mencapai hampir US$2.300 (sekitar NT$76.000).
Setelah pengumuman kebijakan tarif baru Donald Trump, saham Apple anjlok 9,3% pada hari Kamis (3/4), penurunan terburuk sejak Maret 2020.
Karena sebagian besar produk Apple diproduksi di Tiongkok, dan Donald Trump mengenakan tarif 54% pada produk ekspor Tiongkok, maka Apple akan menghadapi dilema apakah akan mengalihkan biaya tarif kepada konsumen atau menanggungnya sendiri.
Menurut perhitungan Rosenblatt Securities, jika Apple ingin mengimbangi kenaikan biaya akibat tarif, maka harga iPhone perlu naik 43%, Apple Watch naik 43%, iPad naik 42%, dan laptop Mac serta AirPods perlu naik 39%.
Meskipun sebagian lini produksi Apple telah dipindahkan ke Vietnam dan India, tetapi mayoritas iPhone masih diproduksi di Tiongkok, sementara Vietnam dan India masing-masing dikenakan tarif 46% dan 26%, sehingga tidak luput dari dampaknya.
Analis Rosenblatt Securities memperkirakan, jika Apple memilih untuk mengalihkan seluruh kenaikan biaya 43% kepada konsumen, maka mengambil contoh seri iPhone 16, harga iPhone 16 model dasar akan melonjak dari US$799 (sekitar NT$26.500) menjadi US$1.142 (sekitar NT$37.800), sementara iPhone 16 Pro Max bisa naik dari US$1.599 (sekitar NT$52.960) menjadi hampir US$2.300 (sekitar NT$76.000)!
Analis Barton Crockett menyatakan bahwa tingkat tarif terhadap Tiongkok melebihi perkiraan, dan bahkan Apple pun tidak luput dari dampaknya. Dia menjelaskan bahwa ketika Donald Trump menerapkan kebijakan tarif selama masa jabatan pertamanya dalam perang dagang dengan Tiongkok, Apple diberikan sejumlah pengecualian sehingga hampir tidak terpengaruh, tetapi kali ini Apple tidak mendapatkan pengecualian apapun.
Barton Crockett berpendapat bahwa masalah Apple mungkin akan dibahas dalam pertemuan mendatang antara Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jin-ping (習近平), dan kemungkinan akan ada lebih banyak negosiasi antara Apple dengan Gedung Putih.
Saat ini Apple belum memberikan tanggapan apapun. Secara umum, diperkirakan Apple tidak akan mengambil risiko penurunan permintaan pasar dengan menaikkan harga secara drastis dan memberi kesempatan kepada pesaing (seperti Samsung).
Namun, pangsa pasar ponsel Apple telah stagnan untuk waktu yang lama, dan fitur AI belum berhasil mendorong penjualan, hal ini bisa memberikan tekanan tambahan pada pendapatan Apple, terutama ketika tarif mendorong kenaikan biaya.