(Taiwan, ROC) – Kasus COVID-19 di Taiwan telah meningkat secara perlahan selama empat minggu berturut-turut, dengan terus bertambahnya kasus pasien dengan gejala berat. Wakil Kepala Pusat Pengendalian Infeksi RS China Medical University, Huang Gao-bin (黃高彬) pada hari ini (4/4) menyatakan bahwa risiko penyakit berat akibat COVID-19 sangat tinggi, dengan tingkat kematian 10 hingga 12 kali lipat ketimbang influenza. Huang menekankan jika vaksin JN.1 sangat efektif dalam mengurangi risiko penyakit berat dan kematian, serta menghimbau para lansia untuk menerima dosis kedua guna meningkatkan perlindungan.
Kecamuk COVID-19 di dalam negeri masih berfluktuasi pada tingkat rendah, tetapi telah mengalami peningkatan secara perlahan selama empat minggu berturut-turut. Pekan lalu, jumlah kunjungan rawat jalan dan gawat darurat mencapai 1.900 kasus, meningkat 4,9% jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya, dengan kasus penyakit berat yang terus bertambah.
Sejak Oktober tahun lalu hingga kini, tercatat total 537 kasus COVID-19 berat, dengan 114 di antaranya meninggal dunia. Mayoritas kasus berat dan kematian terjadi pada lansia berusia 65 tahun ke atas, serta individu dengan riwayat penyakit kronis. Selain itu, lebih dari 96% dari mereka yang terkena dampak parah belum menerima vaksin JN.1.
Wakil Kepala Pusat Pengendalian Infeksi RS China Medical University, Huang Gao-bin (黃高彬) dalam sebuah wawancara pada hari ini (4/4) menunjukkan, seiring terus bermunculannya varian baru COVID-19, afinitas virus terhadap sel tubuh manusia semakin kuat, yang berarti tubuh menjadi lebih mudah terinfeksi. Dirinya juga menambahkan bahwa lansia yang terinfeksi lebih rentan mengalami penyakit berat, dengan tingkat kematian sekitar 1,2%, yang 10 hingga 12 kali lipat lebih tinggi dibandingkan influenza.
Menurut Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Taiwan, vaksin JN.1 telah diberikan kepada total 2,055 juta orang sejak dimulai pada Oktober tahun lalu, dengan tingkat vaksinasi nasional sebesar 8,65%. Di antara lansia berusia 65 tahun ke atas, sebanyak 815.000 orang telah menerima vaksin, dengan tingkat vaksinasi sebesar 17,95%, yang kurang dari 20%. CDC mengumumkan bahwa mulai 8 April, vaksinasi dosis kedua JN.1 akan dibuka untuk tiga kelompok berisiko tinggi, yakni lansia berusia 65 tahun ke atas, individu dengan kekebalan yang lemah, dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah. Dosis kedua dapat diberikan setelah jarak 6 bulan dari dosis pertama.
Huang menyampaikan, meskipun saat ini belum ada vaksin mukosa yang dapat mencegah infeksi COVID-19, vaksin JN.1 efektif dalam mengurangi risiko penyakit berat dan kematian. Dirinya juga menjelaskan bahwa varian COVID-19 yang saat ini beredar semuanya merupakan turunan dari varian JN.1, dan vaksin JN.1 memberikan perlindungan terhadap varian-varian ini. Huang menghimbau agar kelompok berisiko tinggi, seperti lansia, menerima dosis kedua vaksin untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit berat atau kematian.