(Taiwan, ROC) -- Apakah Anda merupakan orang yang “kurus tapi gemuk” yaitu memiliki berat badan normal tapi lemak tubuh berlebih? Berhati-hatilah dengan risiko kesehatan yang lebih tinggi daripada mereka yang mengalami obesitas. Dokter penyakit dalam Chen Wei-long (陳威龍) menyampaikan pada 2 April, bahwa sekitar 45% populasi dunia memiliki karakteristik “kurus tapi gemuk” yang umumnya memiliki penumpukan lemak di perut dan massa otot yang tidak mencukupi. Risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular pada kelompok ini 52% lebih tinggi daripada mereka yang mengalami obesitas.
Orang-orang umumnya mengetahui hubungan antara obesitas dan penyakit kronis, tapi berat badan normal tidak berarti sehat. Dokter penyakit dalam Chen Wei-long menyampaikan, bahwa sekitar 45% populasi dunia memiliki karakteristik “kurus tapi gemuk”. Meskipun BMI mereka berada dalam kisaran normal (18,5-24,9), tapi persentase lemak tubuh mereka relatif tinggi (laki-laki>25%, perempuan>30%) dan mereka rentan terhadap indikator metabolisme abnormal pada gula darah, lipid darah, dan tekanan darah, sehingga meningkatkan risiko penyakit kronis.
Chen Wei-long menyampaikan, ada seorang manajer perempuan berusia 45 tahun di industri keuangan memiliki BMI 20, yang berada dalam kisaran standar. Dia selalu berpikir bahwa dirinya dalam keadaan sehat, tetapi laporan pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa trigliseridanya (lemak dalam darah) terlalu tinggi. Pengukuran lebih lanjut terhadap persentase lemak tubuhnya mencapai 35%. Pemeriksaan USG perut mengungkapkan bahwa ia memiliki perlemakan hati sedang, dan tes darah menunjukkan bahwa hemoglobin glikosilasi dan resistensi insulinnya tinggi, menempatkannya pada risiko tinggi diabetes.
Chen Wei-long menyampaikan, bahwa kelompok “kurus tapi gemuk” ini umumnya memiliki ciri penumpukan lemak perut dan massa otot yang tidak mencukupi. Namun, karena berat badan mereka normal, mereka meremehkan risiko kesehatan hingga penyakit diabetes dan kardiovaskular datang, barulah mereka menyadari keseriusan masalah tersebut. Penelitian menunjukkan, bahwa risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular pada “orang kurus yang gemuk” adalah 52% lebih tinggi daripada orang yang kelebihan berat badan atau obesitas, dan risikonya meningkat seiring bertambahnya usia. Risiko bagi mereka yang berusia 50-64 tahun adalah tiga kali lipat daripada yang berusia 20-34 tahun, yang berusia 65 tahun adalah 4 kali lipat.
Chen Wei-long menekankan, bahwa penyebab “orang kurus tapi gemuk” tidak hanya genetik, tapi juga terkait dengan penumpukan lemak visceral (lemak dalam rongga perut) yang berlebihan. Kurang olah raga, pola makan tinggi gula dan pati dapat meningkatkan lemak visceral, membuat tubuh mengalami peradangan kronis. Otot merupakan organ penting untuk mengatur gula darah. Massa otot yang tidak mencukupi akan mengurangi kemampuan tubuh untuk menggunakan glukoas, menyebabkan gula darah melonjak dan mempercepat diabetes yang memburuk.
Mengenai cara menghindar dari “orang kurus yang gemuk”, Chen Wei-long menyarankan 4 pendekatan utama, termasuk mengurangi asupan gula rafinasi dan makanan olahan, mengembangkan kebiasaan olah raga, tidur yang cukup, dan pemeriksaan kesehatan rutin. Ia menyampaikan, bahwa masyarakat juga dapat menggunakan pengukur lemak tubuh canggih untuk mengukur lemak visceral di rumah.