History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Gempa Dahsyat 8.2SR di Myanmar: Gedung Bangkok Runtuh! Ahli Ungkap 3 Peringatan Penting untuk Taiwan

  • 02 April, 2025
  • 尤繼富
Gempa Dahsyat 8.2SR di Myanmar: Gedung Bangkok Runtuh! Ahli Ungkap 3 Peringatan Penting untuk Taiwan
Gempa Dahsyat 8.2SR di Myanmar: Gedung Bangkok Runtuh! Ahli Ungkap 3 Peringatan Penting untuk Taiwan 路透社

(Taiwan, ROC) --- Gempa besar berkekuatan 8.2SR yang mengguncang Myanmar Jumat lalu mengakibatkan kerusakan bangunan di Bangkok, ibu kota Thailand yang selama ini terkenal bebas gempa meski berjarak ribuan kilometer.

Gempa pekan kemarin membuat sebuah gedung yang struktur utamanya baru selesai dibangun ikut runtuh.

Pendiri Pusat Properti Quanxiang Technology, Liu Yong-chang (劉永昌) menunjukkan 3 peringatan penting untuk Taiwan.

Peringatan Pertama: Apakah Standar Ketahanan Gempa dalam Peraturan Saat Ini Sudah Cukup?

Thailand tidak terletak di Cincin Api Pasifik dan tidak berada di perbatasan lempeng tektonik utama. Karena jarang terjadi gempa, bangunan di sana umumnya tidak memiliki desain tahan gempa. Peraturan lama juga tidak mencakup risiko bencana gempa. Pengabaian jangka panjang ini menyebabkan rendahnya kapasitas bangunan tahan gempa di wilayah tersebut, yang mengakibatkan kerusakan parah yang tak terduga kali ini.

Taiwan terletak di zona gempa dengan aktivitas seismik yang sering terjadi. Meskipun pemerintah telah merevisi undang-undang pasca Gempa 921 pada tahun 2002 untuk meningkatkan koefisien ketahanan gempa bangunan, apakah persyaratan ketahanan gempa dalam peraturan baru ini benar-benar memadai?

Di Taipei dan New Taipei, peraturan hanya mensyaratkan bangunan baru tahan gempa di atas 0.24G. Jika hanya dirancang dengan persyaratan minimum, bahkan rumah baru masih bisa rusak atau runtuh saat menghadapi gempa kuat berkekuatan 6SR atau 7SR.

Liu Yong-chang percaya bahwa dengan meningkatnya gempa kuat di Taiwan dalam beberapa tahun terakhir, jika pemerintah ingin mencegah bencana, mereka dapat mempertimbangkan untuk merevisi undang-undang lebih lanjut untuk meningkatkan persyaratan ketahanan gempa bangunan, dan memberikan lebih banyak insentif untuk proyek bangunan tahan gempa dan teknologi konstruksi baru.

Pengembang juga harus mempertimbangkan untuk mengadopsi lebih banyak teknologi tahan gempa baru dari luar negeri untuk mempercepat penyebaran rumah tahan gempa di pasar.

Peringatan Kedua: Apakah Kondisi Geologi yang Aman Berarti Tidak Perlu Takut Gempa? Gempa Kuat Jarak Jauh Tetap Sulit Dihindari!

Di masa lalu, orang percaya bahwa Thailand hampir tidak mungkin mengalami gempa, tetapi kerusakan kali ini telah membuktikan sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa meskipun gempa besar jarang terjadi di suatu daerah, risiko gelombang gempa jarak jauh tetap sulit dihindari.

Gelombang gempa dari Myanmar yang mencapai Thailand mengakibatkan kerusakan serius di cekungan Bangkok karena efek resonansi dengan gedung-gedung tinggi.

Liu Yong-chang menunjukkan bahwa dengan seringnya gempa di seluruh Taiwan dalam beberapa tahun terakhir, membuat banyak masyarakat kemudian mencari lokasi yang jarang terjadi gempa.

Bahkan di Kota Taoyuan yang memiliki kondisi geologi terkuat dan teraman di Taiwan, banyak bangunan mengalami kerusakan setelah gempa baru-baru ini, dan bahkan bangunan yang relatif baru juga diberi label kuning-merah yang menandakan bangunan berbahaya, bahkan ada kasus dugaan kerusakan pada pilar struktural.

Peringatan Ketiga: Jika Bangunan Baru Saja Tidak Tahan Gempa, Apalagi Bangunan Lama

Di Thailand, sebuah bangunan yang sedang dalam konstruksi runtuh akibat gempa, menampilkan pemandangan yang mengerikan. Diketahui bahwa bangunan tersebut telah mencapai tahap topping off, yang berarti struktur utamanya telah selesai. Secara teori seharusnya lebih tahan gempa dibanding bangunan lama, tetapi sebaliknya malah runtuh.

"Jika bangunan baru saja tidak tahan gempa, maka risiko hunian di bangunan lama di wilayah tersebut sangat tinggi mengingat gempa susulan yang terus terjadi," tutur Liu Yong-chang.

Karena kekuatan struktur bangunan bersifat habis pakai, hingga akhir tahun lalu, Taiwan memiliki 5,15 juta unit rumah berusia lebih dari 30 tahun, mencakup 55% dari total stok perumahan. Di Taipei bahkan melebihi 70%.

Rumah-rumah di Taiwan yang dibangun di masa-masa awal memiliki ketahanan gempa yang rendah, dan setelah mengalami berbagai gempa selama bertahun-tahun, ketahanan gempanya telah sangat menurun.

Liu Yong-chang memperingatkan bahwa meskipun rumah tidak roboh di masa lalu, tidak berarti bisa bertahan menghadapi gempa besar berikutnya. Jika ditemukan masalah seperti retak atau kebocoran, itu adalah tanda-tanda yang perlu diwaspadai.

Liu Yong-chang menjelaskan bahwa bangunan yang aman harus memiliki perencanaan struktur dan desain tahan gempa yang baik, serta kualitas konstruksi yang baik.

Jika semua bangunan bisa mengikuti standar Jepang yang mensyaratkan ketahanan terhadap gempa 0.4G, ditambah dengan kualitas konstruksi yang baik, tentu akan sangat mengurangi risiko bahaya gempa.

Komentar

Terbarumore