(Taiwan,ROC) --- Kantor Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (ODNI) merilis laporan penilaian ancaman global setebal 30 halaman pada tanggal 25, dengan sepertiga isinya melibatkan Tiongkok, menyebutkan bahwa Beijing membuat kemajuan yang “stabil, tapi tidak merata” dalam kemampuannya menyerang Taiwan. Pemerintah Tiongkok akan meningkatkan skala, cakupan, dan kecepatan operasi militer di sekitar Taiwan.
Di bawah judul “2025 Annual Threat Assessment of the U.S. Intelligence Community” dan “Taiwan and Maritime Conflict” menyebutkan bahwa konflik antara Tiongkok dan Taiwan akan mengganggu akses Amerika Serikat terhadap perdagangan dan teknologi semikonduktor yang vital bagi ekonomi global.
Laporan tersebut menyampaikan, bahwa meskipun Amerika Serikat (AS) tidak terlibat dalam konflik, mungkin ada konsekuensi signifikan dan mahal bagi kepentingan keamanan ekonomi AS dan global.
Laporan tersebut menunjukkan, bahwa Beijing mengisolasi Taiwan dengan menekan negara lain agar menurunkan hubungan diplomatik dengan Taiwan dan mendukung penyatuan Tiongkok. Sejak 2016, jumlah sekutu diplomatik Taiwan telah turun dari 22 menjadi 12, dengan beberapa di antaranya rentan terhadap tekanan Tiongkok.
Berdasarkan laporan tersebut, RRT sedang meningkatkan kemampuan militernya untuk persiapan kampanye lintas selat dan juga menggunakan angkatan bersenjatanya untuk memberikan tekanan berkelanjutan terhadap Taiwan. Beijing mungkin membuat kemajuan yang “stabil, tapi tidak merata” dalam kemampuannya untuk mencoba mengambil Taiwan dan mencegah, jika perlu mengalahkan intervensi AS.
ODNI menyampaikan bahwa Beijing akan terus menekan Taiwan dengan paksaan ekonomi dan mungkin meningkatkan intensitas secara paksa jika melihat Taiwan mengambil langkah menuju ke arah merdeka. RRT dapat menangguhkan ketentuan tarif prefensial, secara selektif melarang ekspor Taiwan ke Tiongkok, atau menegakkan peraturan secara sewenang-wenang.
Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (DNI), Tulsi Gabbard dan para pejabat intelije lainnya menghadiri sidang Senat AS pagi ini dan menekankan, bahwa komunitas intelijen yakin bahwa Tiongkok adalah “pesaing strategis paling kuat” AS. Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping (習近平), Tiongkok berupaya memosisikan diri sebagai kekuatan ekonomi, teknologi, dan militer terkemuka di panggung di dunia.
Tulsi Gabbard mengutarakan, bahwa Tiongkok ingin mengembangkan sekaligus memelihara hubungan dengan AS dan pemerintahan Trump untuk memajukan kepentingannya sekaligus menghindari konflik. Namun, Tiongkok juga membangun kemampuan militer, dengan alasan untuk memperoleh keuntungan terkait isu penyatuan dengan Taiwan jika berkonflik secara militer dengan AS.
Ia juga menyampaikan, bahwa militer Tiongkok memperluas penempatan di kawasan Asia Pasifik dengan fokus sengketa di Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan.