(Taiwan, ROC) -- Sebuah toko kecil di dalam gang tampak ramai dikunjungi beberapa anak muda. Lokasinya tidak jauh dari MRT Nanshijiao dan Myanmar Street, tempat favorit para pecinta kuliner murah meriah nan eksotis. Sebuah papan bertuliskan kegiatan di hari Sabtu, 22 Maret 2025 turut menyambut para tamu toko.
Toko tersebut bertuliskan “Cahaya” dalam Bahasa Indonesia, sementara dalam Bahasa Mandarin bertuliskan “燦爛時光:東南亞主題書店” atau “Brilliant Time”. Sebuah papan bertuliskan kegiatan di hari Sabtu, 22 Maret 2025 turut menyambut para tamu toko. Chang Cheng (張正) pun memulai seminarnya dengan tepat waktu, memaparkan perjalanan toko buku “Brilliant Time” dari akhir tahun 2015 hingga saat ini.

Foto bersama saat kegiatan tur budaya Asia Tenggara di Myanmar Street
Sekitar 10 tahun berlalu, beliau menyampaikan, bahwa toko buku “Brilliant Time” akan ditutup per 12 April 2025, meskipun Anda masih dapat merasakan suasana toko buku Asia Tenggara ini hingga akhir April mendatang.
Mengapa ditutup?
Dalam acara tersebut, Chang Cheng mengutarakan, toko kecil yang pernah dikunjungi 2 mantan presiden Taiwan, yaitu Tsai Ing-wen (蔡英文) dan Ma Ying-jiu (馬英九) serta para tokoh ternama lain memang telah memberikan warna baru bagi kehidupan masyarakat Taiwan.
Awal pendiriannya tidak lepas dengan semakin banyaknya penduduk imigran baru dan para pekerja migran di Taiwan. Kala itu, pendiri “Koran Empat Arah” (四方報) ini berkenalan dengan beberapa imigran di Taiwan yang mencari asupan jiwa di tanah rantau dan buku menjadi salah satu pilihan tersebut.
Berawal dari sebuah lomba penulisan esai yang diselenggarakan bagi para imigran Asia Tenggara, perpustakaan ini mulai terbentuk. Menurut istri Chang, ketika itu, salah satu peserta penulisan essai mengatakan kepada penyelenggara bahwa ia memiliki ketertarikan akan buku. Sayangnya, selama 3 tahun bekerja di Taiwan, ia tidak mendapatkan kesempatan libur untuk mencari buku. Pekerja tersebut berharap tetap bisa mendapatkan ilmu dari buku-buku bacaan. Karenanya digagaslah toko bertema Asia Tenggara yang kemudian berkembang menjadi perpustakaan.
Toko “Brilliant Time” selanjutnya menjadi oase dan ruang pertemuan bagi masyarakat Taiwan maupun warga asing, khususnya dari Asia Tenggara untuk berbagi kisah, melakukan penelitian, ataupun untuk saling mengenal satu sama lain. Berbagai kegiatan pun diselenggarakan di tempat ini.

Kegiatan seminar terkait dengan toko buku "Brilliant Time"
Seiring dengan berjalannya waktu, teknologi digital semakin merajai lingkungan, kebijakan pemerintah Taiwan kini juga semakin memperhatikan kebutuhan para penduduk imigran baru serta pekerja migran asing, khususnya dari Asia Tenggara. Berbagai perpustakaan di Taiwan kini telah menghadirkan buku-buku berbahasa Asia Tenggara, acara dan kegiatan terkait dengan Asia Tenggara juga semakin umum hadir dalam kehidupan masyarakat Taiwan, sehingga pilihan dan lokasi kegiatan semakin beragam.
Menghadapi perkembangan zaman, dengan berat hati Chang Cheng dan istrinya Liao Yun-zhang (廖雲章) pun kemudian memutuskan untuk menutup toko buku “Brilliant Time” dan memindahkan ribuan buku ke sebuah tempat penyimpanan yang telah mereka sewa.

Chang Cheng (張正) ketika memberikan penjelasan mengenai berbagai tulisan yang tertera di bagian depan toko "Brilliant Time" yang berlokasi di Nanshijiao, Kota New Taipei
Kenangan yang hilang
Tidak dapat dipungkiri, toko “Brilliant Time” merupakan pusat kegiatan terkait dengan Asia Tenggara di awal kebijakan pemerintah Taiwan saat menerapkan “Kebijakan Selatan Baru”. Sejak berdiri, banyak mahasiswa, peneliti, dan komunitas yang bertemu di tempat ini.
Seorang jurnalis asal Filipina bernama Michael menyampaikan, bahwa ia telah beberapa kali datang ke toko buku tersebut. Michael pertama kali datang di tahun 2016 dan ia merasa terhubung dengan toko tersebut setiap kali datang ke Taiwan. Ia juga merasa sedih karena toko ini akan segera tutup. Namun, ia kemudian merasa lega ketika Zhang Zheng mengutarakan, bahwa meskipun toko buku secara fisik akan tutup, tapi kegiatan pemberdayaan membaca buku dan kegiatan-kegiatan lain terkait dengan Asia Tenggara tetap ada.
Salah satunya adalah kegiatan perpustakaan lantai yang berada di aula Stasiun Utama Taipei. Perpustakaan ini awalnya diinisiasi oleh salah seorang staf Brilliant Time yang menyampaikan, bahwa untuk merambah para imigran Asia Tenggara, khususnya yang berasal dari Indonesia, maka sebaiknya memanfaatkan aula Stasiun Utama Taipei sebagai tempatnya.
Selain Michael, Lin yang merupakan mahasiswa pasca sarjana dari Universitas Cheng Chi (NCCU) asal Malaysia juga merasakan kesedihan tersendiri. Lin yang baru pertama datang ke toko “Brilliant Time” merasa tersentuh, sebab ia segera merasa terhubung dengan toko tersebut setelah melihat bendera Malaysia terpampang di toko ini, terlebih bendera tersebut juga terlukis di dinding toko. Ia menyayangkan toko fisik “Brilliant Time” yang akan segera menghilang, tapi juga merasa terhibur karena kegiatan akulturasi budaya, seni, dan sosial terkait untuk masyarakat Taiwan dan Asia Tenggara tetap akan terus berlanjut.
Lin sendiri akan hadir dalam kegiatan “Brilliant Time” lain, jika ada waktu dan kesempatan di masa mendatang. Teman-teman Asia Tenggara lain yang ingin melakukan pertukaran dengan masyarakat Taiwan, mencari oase melalui buku bacaan atau kegiatan positif lain terkait dengan sosial maupun budaya Taiwan dan Asia Tenggara juga dapat mengikuti perkembangannya melalui media sosial “Brilliant Time”.

Tampak depan toko "Brilliant Time"