(Taiwan, ROC) —- Belakangan ini mi instan Vietnam terdeteksi mengandung residu Sudan Red (pewarna industri) dan Ethylene oxide (sterilizer), keduanya termasuk zat karsinogen kelas 1, dan seluruhnya telah dicegat di kawasan perbatasan Taiwan untuk kemudian dihancurkan.
Masyarakat kemudian bertanya-tanya bagaimana cara menikmati mi instan yang lebih sehat?
Menanggapi hal di atas, salah seorang dokter di Taiwan, Ooi Hean (黃軒), membagikan 3 hal yang harus dan tidak boleh dilakukan saat makan mi instan.
Dokter Ooi Hean menjelaskan, tidak semua mi instan berbahaya. Mi yang tidak digoreng (seperti mi yang dikukus) mengandung acrylic acid 85% lebih sedikit.
Pilih mi kemasan plastik dan hindari wadah mangkuk untuk mengurangi risiko Bisphenol A. Membuat bumbu sendiri sebagai pengganti bumbu bubuk dapat mengurangi asupan sodium hingga 70%.
Dokter Ooi Hean menyebutkan, konsumsi mi instan untuk orang dewasa tidak boleh lebih dari 3 bungkus per minggu, anak-anak/ibu hamil dibatasi 1 bungkus per minggu.
Dia khususnya mengingatkan jika makan lebih dari 2 bungkus sehari selama 3 hari berturut-turut, maka beban ginjal akan meningkat 2,8 kali lipat.
Ia menyarankan, saat memasak mi instan, buang air rebusan pertama setelah air mendidih, ini dapat menghilangkan 15% zat tambahan. Gunakan hanya 1/3 bumbu, dan tambahkan daun bawang, bawang putih cincang, atau rumput laut.
Selain itu, bahan alami yang tidak boleh kurang saat memasak mi instan adalah telur dan sayuran. Telur atau tahu bisa menambah protein, menambahkan sayuran bisa meningkatkan serat dan mempercepat metabolisme.
Jika makan mi instan kemasan mangkuk, disarankan menggantinya dengan mangkuk kaca atau keramik untuk menyeduh.
Dokter Ooi Hean memperingatkan jangan pernah makan sayuran kering yang disertakan dan hindari bumbu berwarna merah atau oranye.
Terakhir dokter juga membagikan 3 hal yang harus dan tidak boleh dilakukan saat makan mi instan.
Pertama, harus memilih kemasan transparan agar bisa melihat mi dengan jelas, kedua, harus memeriksa daftar bahan apakah ada zat tambahan 'Nomor E' (yaitu tidak ada Ethylene oxide, verifikasi EO), kemudian harus dikombinasikan dengan sayuran hijau untuk mempercepat detoksifikasi.
Ketiga, jangan minum kuahnya (mengandung 70% zat berbahaya), serta jangan menyeduh langsung di mangkuk kemasan mi instan dan jangan makan 2 hari berturut-turut.
Dokter Ooi Hean menjelaskan, ibu hamil dan anak-anak adalah kelompok berisiko tinggi.
Ethylene oxide (EO) mudah menembus plasenta dan mempengaruhi perkembangan saraf janin. Sedangkan anak-anak memiliki berat badan yang ringan, kemampuan metabolisme zat karsinogen hanya 1/3 dari orang dewasa.
Namun dia juga menyebutkan bahwa makan mi instan 1-2 kali sebulan tidak perlu terlalu panik. Yang benar-benar berbahaya adalah pola kombinasi mi instan + minuman bersoda + begadang, hal ini yang dipercaya akan membuat beban metabolisme hati dan ginjal meningkat drastis.