(Taiwan, ROC) Komite Eksekutif Partai Demokrat Progresif(DPP) kemarin (19/3) mengundang perintis dan President Taiwan Digital Diplomacy Association (TDDA) Kuo Chia-yo untuk memberikan laporan khusus “Transformasi Diplomasi Antar-Masyarakat di Era Digital”. Presiden Lai Ching-te selaku ketua DPP mengatakan, pemerintah menghormati pendapat para pemimpin muda yang merupakan generasi kunci pembangunan negara, dan negara harus membiarkan generasi muda merangkul impian dan harapan.
Presiden Lai mengatakan bahwa generasi muda menjadi generasi kunci pembangunan negara, memberi kesempatan bagi generasi muda berkarya maka, mengusulkan kebijakan untuk membentuk kebijakan “Taiwan Global Pathfinder Initiative”, pemerintah memberikan bantuan berupa dana realisasi impian, tahun ini merupakan tahun pertama, akan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang.
Selain itu, Presiden Lai Ching-te mengatakan, DPP aktif memupuk perspektif internasional yang lebih luas, akan menggelar kamp pembinaan diplomasi pemuda ke-2, secara pro-aktif membina lebih banyak generasi muda yang berminat terhadap urusan internasional. “DPP Youth Diplomacy Empowerment Program 2025” telah dibuka pendaftarannya, program ini akan berlangsung pada tanggal 19 -28 Juli selama 10 hari, membawa pemuda ke AS, untuk bertukar pikiran dan belajar tentang praktik diplomasi garis depan.
Presiden Lai Ching-te mengatakan Taiwan saat ini menghadapi tantangan akibat perubahan situasi internasional. Pemerintah dan masyarakat bekerja sama untuk mempromosikan hal-hal baik tentang Taiwan, dari kesan nol menjadi kesan baik, dan dari kesan baik menjadi objek kerja sama dan pertukaran yang sangat diperlukan.
Lai Ching-te mengatakan bahwa pertemuan para menteri luar negeri G7 mengeluarkan pernyataan bersama pada pekan lalu, menegaskan betapa pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Selain menekankan penolakannya terhadap upaya sepihak untuk mengubah status quo dengan kekerasan atau ancaman, pertemuan ini juga mendukung partisipasi Taiwan yang berarti dalam organisasi internasional.
Dia mengatakan bahwa sebagai anggota komunitas internasional yang bertanggung jawab, tujuan utama dan pendekatan konsisten Taiwan adalah mempertahankan status quo perdamaian dan kebebasan. Kami akan terus memperkuat kerja sama dengan negara-negara sahabat untuk bersama-sama menjaga kebebasan dan keterbukaan di kawasan Indo-Pasifik, dengan tegas melindungi nilai-nilai universal seperti kebebasan dan demokrasi, dan bekerja sama untuk membangun “non China's Red Supply Chain” untuk meningkatkan ketahanan ekonomi demokrasi.