(Taiwan, ROC) --- Setelah H5N1, Amerika Serikat kembali menghadapi wabah flu burung H7N9. Profesor Chen Hsiu-hsi (陳秀熙) dari Institut Epidemiologi dan Kedokteran Preventif Universitas Nasional Taiwan menyatakan bahwa virus H5N1 telah mengalami mutasi, meningkatkan afinitasnya terhadap reseptor manusia, membuat virus lebih mudah menyebar antar inang.
Dunia harus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan pandemi pada manusia di masa depan. Beliau menghimbau untuk memperkuat pengawasan, mempercepat pengembangan vaksin, dan meningkatkan kesigapan menghadapi pandemi.
Flu burung H5N1 telah melanda Amerika Serikat, menyerang ribuan sapi perah di peternakan dan menginfeksi puluhan orang, dengan satu kematian. Baru-baru ini, peternakan ayam AS juga mengalami wabah flu burung H7N9. Jika manusia terinfeksi H7N9, maka tingkat kematiannya lebih tinggi, yakni mencapai hampir 40%, membuat situasi flu burung di AS semakin kompleks dan serius.
Pada Rabu hari ini (19/3), Profesor Chen Hsiu-hsi menunjukkan bahwa menurut penelitian, karakteristik pengikatan reseptor virus H5N1 telah bermutasi, meningkatkan afinitasnya terhadap reseptor manusia.
Saat ini virus H5N1 telah beradaptasi dengan inang mamalia seperti sapi perah. Meskipun baru menyebabkan kasus infeksi manusia yang sporadis, tetapi virus terus mengakumulasi mutasi dan dapat menyebabkan pandemi pada manusia di masa depan.
Dia mengatakan, "Untuk mempersiapkan pandemi H5N1, fakta bahwa inang mamalia seperti sapi perah telah beradaptasi menunjukkan bahwa virus ini dapat dengan mudah menyebabkan pandemi melalui penularan zoonosis ke manusia. Saya pikir saat ini kita perlu sangat waspada terhadap hal ini."
Chen Hsiu-hsi menyatakan, meskipun sebagian besar kasus infeksi virus H5N1 pada manusia saat ini menunjukkan gejala ringan, tetapi H5N1 memiliki patogenisitas tinggi, dan dunia harus mempercepat persiapan menghadapi pandemi serta merumuskan strategi pencegahan dan pengendalian yang tepat.
Dia menghimbau agar seluruh negara memperkuat pemantauan molekul mutasi, melakukan pelacakan lintas spesies dan mengembangkan vaksin, memblokir infeksi reseptor manusia, untuk mencegah penularan antar manusia, sehingga dapat mencegah kemungkinan pandemi di masa depan.
Chen Hsiu-hsi menunjukkan bahwa teknologi produksi vaksin saat ini terbatas, pembuatan vaksin protein berjalan lambat, proses evaluasi imunogenisitas vaksin, penilaian efektivitas dan pelepasan batch memakan waktu, sebagian besar lembaga pengawas kekurangan sumber daya.
Dia menghimbau untuk segera mendorong teknologi baru seperti vaksin mRNA dan vaksin antigen inovatif, serta memperkuat kerja sama internasional, memastikan berbagi sumber daya dan latihan tanggap darurat, untuk mengurangi dampak sosial dan ekonomi dari pandemi H5N1 di masa depan.