(Taiwan,ROC) —- Menurut statistik Kementerian Ketenagakerjaan (MOL), jumlah klaim pengangguran sepanjang tahun 2024 mencapai 90.938 kasus, angka tertinggi kedua sejak krisis finansial global.
Hal ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja secara keseluruhan tidak sestabil yang dibayangkan. Para akademisi menyatakan, meskipun tahun lalu mendapat keuntungan dari ekspor AI dan teknologi tinggi, tetapi beberapa sektor seperti industri tradisional masih berjuang keras dan mungkin menghadapi resesi jangka panjang.
Untuk mengurangi angka PHK, unit bisnis dapat terlebih dahulu menerapkan pengurangan jam kerja (cuti tanpa gaji).
"Lingkungan kerja Taiwan telah menunjukkan pola L," kata Tai Kuo-jung (戴國榮), Ketua Federasi Serikat Pekerja Industri Nasional. Industri teknologi tinggi menawarkan gaji tinggi tetapi kekurangan tenaga kerja, sementara industri tradisional seperti petrokimia dan baja menghadapi berbagai masalah seperti penghapusan keuntungan ECFA, kondisi ekonomi yang buruk, kesulitan menaikkan gaji, dan kesulitan mencari pekerja.
Memperburuk situasi, kebijakan pemerintah untuk menekan pasar properti dalam beberapa tahun terakhir dikhawatirkan akan mengurangi permintaan.
Profesor Hsin Ping-lung (辛炳隆), Profesor dari Institut Pembangunan Nasional Universitas Nasional Taiwan, menjelaskan bahwa pada tahun 2024, selain industri tradisional yang tetap lesu, beberapa sektor juga terdampak oleh peristiwa seperti gempa bumi Hualien.
Tahun lalu, Kementerian Ketenakerjaan (MOL) pertama kali menerapkan langkah stabilisasi kerja untuk pekerja yang mengalami pengurangan jam kerja. Namun, beberapa industri yang telah menerapkan pengurangan jam kerja masih tidak melihat prospek yang baik dan akhirnya melakukan PHK, menunjukkan bahwa bisnis menghadapi resesi jangka panjang.
Menurut sumber, karena data pemantauan terkini telah mencapai indikator pemicu, MOL sedang mempertimbangkan kembali untuk mengaktifkan kembali langkah-langkah stabilisasi kerja.