(Taiwan, ROC)—“Saya sangat tertarik dengan kondisi kehidupan para perantau, sebuah perpisahan, tetapi mereka tidak melihatnya sebagai sebuah kesulitan," demikian kata Sutradara Dokumenter Su Yu-hsien (蘇育賢) mengenai filmnya "Taman-taman", yang setelah diputar di Taiwan International Documentary Festival (TIDF). Film tersebut juga terpilih untuk diputar di First Look Festival New York, melanjutkan upaya untuk menceritakan kisah pekerja migran di Taiwan kepada dunia.
Pameran Film First Look Festival ke-14 adalah acara tahunan Museum of the Moving Image New York, dan "Taman-taman" adalah karya dari Taiwan yang terpilih setelah " Nina Wu " pada tahun 2020.
Taman di Tainan yang sering dikunjungi oleh Su Yu-hsien saat kecil kini menjadi tempat bagi pekerja migran untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman mereka. Ia mengatakan, pekerja migran berkumpul pada hari libur untuk bersama-sama menghabiskan waktu, dan itu sangat menarik. Meskipun setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda, mereka memiliki ide-ide yang bisa dibagikan bersama.
Pada usia 43 tahun, Su Yu-hsien berbagi cerita tentang rekaman dan karya "Taman-taman" di Pusat Kebudayaan Taipei di New York. Film tersebut bercerita tentang dua penyair Indonesia merencanakan untuk bertemu di malam hari di Taman Tainan, dan mengubah apa yang mereka lihat dan alami di komunitas Taiwan-Indonesia menjadi puisi.
Karya “Taman-taman” yang diproduksi oleh stasiun televisi PTS adalah karya Su Yu-hsien setelah seri “Gubuk” dan “Dorm”. Di taman-taman Tainan dan internet, ia mencari orang-orang yang bersedia berpartisipasi dalam merekam cerita-cerita pekerja migran Indonesia di Taiwan. Akhirnya, karya tersebut difilmkan pada tahun 2023.
Film First Look Festival memilih film berdasarkan elemen visual yang orisinal dan bentuk seni inovatif. Total terdapat 38 film dari 21 negara, termasuk “Taman-taman”, diputar di Museum of the Moving Image New York yang diputar dari 12 hingga 16 Maret.