(Taiwan, ROC) Pemantuan kualitas udara dari Kementerian Lingkungan, dikarenakan mendapat pengaruh arus balik tekanan udara tinggi, pada hari Selasa ini (3/11) separuh kawasan Taiwan diselimuti dengan kabut abu-abu, setiap napas bisa membahayakan kesehatan. Dokter spesialis bedah toraks, Chung Shan Medical University, Chen Jyh-yih mengatakan, polusi udara sesaat tidak memberikan pengaruh besar kepada manusia, akan tetapi bagi yang memiliki gangguan organ paru-paru berkemungkinan dapat memicu penyakit saluran pernafasan, peradangan paru-paru, asma, pembengkakan paru-paru dan alergi hidup.
Dr Chen Jyh-yih mengemukakan, udara yang kotor yang masuk dari hidung, melewati saluran pernapasan hingga paru-paru, sebagian besar orang dikarenakan mendapat ransangan zat-zat menjadi sensitif, sehingga batuk. Bagi anak-anak dengan kondisi paru-paru yang tidak sehat, perokok, lansia, penderita penyakit paru-paru, dikarenakan udara kotor memicu peradangan dan menyebabkan penyakit kambuh dan memburuk. Ia menekankan, asalkan kualitas udara memburuk, bagi komuter atau mereka yang beraktivitas di luar ruangan, dianjurkan untuk menggunakan masker.
“Polusi udara adalah penyebab utama kerusakan organ paru-paru”, tutur dr. Chen Jyh-yih, jika udara kotor masuk, menimbulkan gejala batuk, peradangan, sesak dada dan asma, jangan menganggap remeh, ini menunjukkan ada kelainan terjadi pada fungsi paru-paru. Dr. Chen mengatakan, kabur dari Daratan Tiongkok menyeberangi samudra masuk ke Taiwan, mengandung zat-zat diantaranya partikulat PM 2.5 sangat berbahaya bagi penderita saluran pernapasan dan alergi, ditambah lagi dengan limbah asap yang dihasilkan kendaraan, pabrik dan lainnya, menghirup udara ini sama seperti menghisap racun secara perlahan-lahan.
Pencegahan polusi udara seperti apa yang harus dilakukan? Dr. Chen Jyh-yih menekankan, polusi udara tidak dapat dihindari, satu-satunya cara ada menggenakan masker, untuk menyaring partikulat PM 2.5 dan debu yang beterbangan, menghindari peradangan saluran pernapasan. Dr. Chen menganjurkan, selain mengurangi bepergian keluar, menggenakan masker, saat dalam ruangan bisa mengaktifkan alat pembersih udara (air purifier), jangan membiarkan jendela terbuka terlalu lebar, dan menjaga sirkulasi untuk keseimbangan kelembapan ruangan.
Dari segi makanan, dr. Chen mengatakan, hingga saat ini tidak ada makanan apa pun yang bisa mengatasi kondisi pasien yang sakit karena polusi udara. Dr. Chen mengingatkan, lebih memerhatikan indeks kualitas udara, menggenakan masker saat keluar rumah dan menghidupkan alat pembersih udara dalam ruangan.