(Taiwan, ROC) -- Belakangan ini, sejumlah siswa di Sekolah Menengah Atas Perempuan Kaohsiung dan beberapa sekolah lainnya merasa tidak puas setelah hasil ujian masuk perguruan tinggi mereka tidak mencapai 60 poin. Hal ini kemudian mendapat perhatian besar dari media sehingga memicu ketidakpuasan dari para siswa. Kelompok siswa “EdYouth Taiwan” mengorganisir siswa dari berbagai sekolah di seluruh Taiwan untuk mengadakan konferensi pers pada 4 Maret untuk mengajukan tiga tuntutan: mengkaji ulang sistem ujian masuk perguruan tinggi dan budaya kredensialisme, serta menyerukan agar sekolah berhenti mempublikasikan daftar peringkat. Tujuannya adalah untuk mengurangi tekanan psikologis siswa dan supaya mereka tidak selalu terpaku pada nilai.
Pada 4 Maret, “EdYouth Taiwan” bersama beberapa kelompok siswa dan organisasi OSIS SMA, mengadakan konferensi pers di Yuan Legislatif untuk mengajukan tiga tuntutan utama. Pertama, para siswa menyerukan agar semua sekolah di Taiwan berhenti mempublikasikan daftar peringkat dan menepati janji yang sebelumnya telah dibuat terkait dengan penghentian publikasi "pengumuman hasil seleksi". Kedua, para siswa meminta Kementerian Pendidikan untuk melakukan tinjauan ulang secara menyeluruh terhadap sistem ujian masuk perguruan tinggi, dan meningkatkan proporsi penerimaan melalui jalur seleksi khusus untuk menunjukkan keragaman bakat siswa. Ketiga, terkait dengan penggunaan informasi pribadi siswa untuk publisitas media, Kementerian Pendidikan diminta untuk menetapkan regulasi yang relevan.
Saat ini, berdasarkan pedoman Kementerian Pendidikan mengenai evaluasi hasil belajar siswa di sekolah dasar dan menengah, sekolah-sekolah tidak diperbolehkan untuk mempublikasikan peringkat individu siswa dalam kelas atau di sekolah.
Kementerian Pendidikan menanggapi dengan positif tuntutan siswa dan menyatakan bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan K-12 mendukung aspirasi siswa. Kementerian Pendidikan juga setuju bahwa sekolah harus memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi dan mengembangkan minat serta potensi mereka, serta mengakui berbagai pencapaian siswa. Sekolah seharusnya tidak membatasi pandangan mereka terhadap kesuksesan siswa hanya berdasarkan nilai akademis saja, tetapi juga harus menghormati kehendak serta privasi siswa saat menerima wawancara media atau mempublikasikan peringkat.