(Taiwan, ROC) Tahun ini memperingati hari pemberontakan Tibet ke-66 tahun, beberapa asosiasi seperti Human Rights Network for Tibet and Taiwan, Taiwan Tibetan Welfare Association dan lainnya pada tanggal 9 Maret akan menggelar unjuk rasa memperingati hari pemberontak Tibet ke-66 tahun, mengimbau agar dunia ikut memerhatikan HAM Tibet. Unjuk rasa mengadopsi tema “Peace Agreement in Disguise, Invasion and Occupation in Reality, 66th Anniversary of Tibetan National Uprising Day”. Beberapa asosiasi ikut berpartisipasi dalam konferensi pers hari ini (6/3), mengimbau agar dunia menyoroti isu HAM Tibet.
hari pemberontakan Tibet ke-66 tahun dengan aksi turun ke jalan akan berlangsung pada tanggal 9 Maret, Human Rights Network for Tibet and Taiwan , Tibet Religious Foundation of His Holiness the Dalai Lama dan lainnya pada hari Kamis ini (6/3) menggelar konferensi pers, ikut dihadiri oleh beberapa anggota partai Demokrat Progresif yang bergabung dalam “Human Rights Network for Tibet and Taiwan” diantaranya Fan Yun (范雲), Huang Jie (黃捷), Puma Shen (沈伯洋) dan Ariel Chang (張雅琳), menegaskan Daratan Tiongkok menekan Tibet, dan menuntut tindakan atas “perdamaian palsu, penindasan nyata”, serta mengimbau komunitas internasional untuk memerhatikan isu HAM Tibet.
Chairman Tibet Religious Foundation of His Holiness the Dalai Lama, Kelsang Gyaltsen mengatakan, masa lalu Tibet sama sekali bukan bagian Tiongkok, sejak tahun 1951, militer Tiongkok menindas Tibet, memaksa penandatanganan “17 Butir Perjanjian Pembebasan Damai Tibet”, kemudian Tiongkok yang melanggar perjanjian tersebut, sepenuhnya menguasai Tibet. 10 Maret 1059, aksi perlawanan dilancarkan, terjadi penindasan berdarah terhadap warga Tibet, memaksa Dalai Lama membawa warga Tibet mengungsi ke India dan membentuk pemerintahan di pengasingan.
Setelah 66 tahun, warga Tibet berlanjut ditindas oleh rezim pemerintahan otoriter Tiongkok. Kelsang Gyaltsen menekankan, pemerintahan otoriter Tiongkok tidak hanya di Tibet, juga di Hongkong, kelompok etnis Uyghur hingga masyarakat Taiwan juga harus berwaspada, menghindari kesalahan Tibet terulang kembali, Kelsang Gyaltsen mengatakan, “Sekarang banyak elit budaya yang tidak hanya dihilangkan secara paksa, namun penindasan transnasional telah menyebar ke seluruh dunia. berbagai macam penderitaan dialami masyarakat Tibet. Meskipun hidup dalam masyarakat yang bebas, segala jenis penindasan transnasional yang mendalam selalu menjadi ancaman serius bagi banyak orang di Tibet, termasuk orang Uyghur, Mongolia Selatan, termasuk Hong Kong, Taiwan, dan banyak orang yang memperjuangkan kebebasan”.
Aksi unjuk rasa peringatan hari pemberontakan Tibet ke-66 tahun, akan dimulai dari Stasiun MRT Taipei Zhongxiao Fuxing pada tanggal 9 Maret sore hari, berkumpul di taman sebelah gedung Taipei 101, kemudian pada tanggal 10 Maret malam akan diadakan penyalaan lilin sebagai bentuk menyuarakan aksi perlawanan terhadap rezim Tiongkok dan bersama-sama melindungi nilai demokrasi dan kebebasan.