(Taiwan, ROC) --- Setelah Donald Trump menjabat posisi presiden Amerika Serikat, kebijakan luar negerinya lebih menekankan "Prioritas Kepentingan AS". Hal ini serta merta membuat publik khawatir apakah dapat mempengaruhi kerja sama militer Taiwan dengan Amerika Serikat.
Menanggapi hal ini, Menteri Pertahanan Nasional, Wellington Koo (顧立雄) mengatakan, jika konflik pecah di kawasan Indo-Pasifik, terlepas dari apakah AS terlibat atau tidak, maka akan berdampak serius pada ekonomi dalam negeri mereka.
Oleh karena itu, dari pertimbangan kepentingan nasional, dia tidak percaya AS akan meninggalkan Indo-Pasifik atau bahkan Taiwan.
Presiden Lai Ching-te (賴清德) baru-baru ini mengumumkan bahwa anggaran pertahanan akan ditingkatkan menjadi 3% dari PDB melalui alokasi anggaran khusus. Publik tertarik dengan arah pembangunan kekuatan militer berikutnya dan alokasi anggaran khusus Kementerian Pertahanan Nasional (MND). Terkait hal ini, Menteri Pertahanan Wellington Koo menyatakan bahwa fokus akan diberikan pada empat aspek utama, meliputi membangun perang asimetris, memperkuat ketahanan pertahanan, meningkatkan kekuatan cadangan, dan memperkuat kapasitas penanganan zona abu-abu. Secara konkret akan diimplementasikan dalam sistem tanpa awak, kecerdasan buatan, dan aplikasi teknologi canggih lainnya.
Wellington Koo menjelaskan, mengenai penyusunan anggaran khusus, maka MND sedang menyusun metode alokasi sesuai dengan kebijakan pemerintah secara keseluruhan, dengan mempertimbangkan faktor-faktor, seperti ancaman musuh dan kebutuhan kesiapan tempur yang mendesak, dan secara khusus berfokus pada kekuatan asimetris dan ketahanan operasional.
Namun karena menyangkut hal-hal sensitif, maka progress saat ini belum bisa dijelaskan ke publik. Mengenai kapan akan diajukan ke Yuan Legislatif untuk ditinjau? Mengingat bagian pengadaan militer membutuhkan waktu untuk negosiasi dan evaluasi, maka diperkirakan akan dilakukan pada sesi berikutnya.
Mengenai apakah kerja sama militer Taiwan dengan AS akan mengalami perubahan setelah Donald Trump menjabat sebagai presiden AS untuk kedua kalinya? Wellington Koo dengan terus terang mengatakan bahwa ia memang melihat perubahan situasi internasional yang cepat dan rumit saat ini. Ia juga menyadari bahwa dalam hubungan internasional tidak hanya membicarakan nilai-nilai semata, tanpa membahas kepentingan nasional.
Oleh karena itu, perihal hubungan Taiwan dengan Amerika Serikat, maka harus dilihat apakah perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan terkait dengan kepentingan utama AS.
Wellington Koo mengutip pernyataan Komandan Indo-Pasifik AS, Laksamana Samuel Paparo, yang mengatakan dari sudut pandang ekonomi global, jika konflik terjadi di Pasifik Barat, terlepas dari apakah AS terlibat atau tidak, akan berdampak bencana bagi daratan AS, karena itu dia percaya AS tidak akan meninggalkan Indo-Pasifik atau Taiwan.
Wellington Koo mengatakan, "Dengan kata lain, menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik serta mempertahankan status quo Selat Taiwan adalah konsensus yang kita miliki dengan AS. Kita memiliki tujuan bersama, dan hingga saat ini kita juga memiliki metode yang sama, yaitu mencapai perdamaian melalui pencegahan dan kekuatan. Jadi dari sudut pandang ini, saya yakin AS tidak akan meninggalkan Indo-Pasifik."
Wellington Koo menekankan, Taiwan berada di posisi pusat rantai pulau pertama, jika Tiongkok berhasil menembusnya, maka sulit membayangkan bagaimana Jepang, Filipina, atau negara-negara Laut Tiongkok Selatan akan merespons ekspansi otoritarianisme.
Oleh karena itu, baik dari segi ekonomi global, geopolitik, bahkan keamanan militer, AS tidak mungkin kehilangan Indo-Pasifik.